Misteri Kisah Janda Kuning di Persawahan Giriwarno Wonogiri

Patung Rondo Kuning berada di halaman SDN 1 Giriwarno, Dusun Watuleter, Desa Giriwarno, Kecamatan Girimarto, Selasa (12/2/2019)./(Espos - Cahyadi Kurniawan)
08 Agustus 2019 09:15 WIB Cahyadi Kurniawan Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI — Di  halaman SDN 1 Giriwarno, berdiri sebuah patung perempuan bertelanjang dada setinggi 1,5 meter. Kulitnya berwarna kuning langsat dibalut jarik kuning. Tangan kanannya memegang wadah kecil yang oleh warga diisi bunga. Perempuan itu berdiri di atas fondasi menyerupai bunga teratai.

Masyarakat sekitar menyebutnya dengan Rondo Kuning. Ia merupakan sosok misterius yang hidup menjadi cerita rakyat. Rondo Kuning kini menjadi lekat dengan nama wilayah setempat. Misalnya, kendati berada wilayah Desa Giriwarno, banyak orang menyebut daerah itu sebagai Rondo Kuning.

“Jadi nama SDN 1 Giriwarno pun orang menyebutnya SD Rondo Kuning. Yang menyebut SDN 1 Giriwarno itu biasanya anak-anak milenial,” kata Kepala Desa Giriwarno, Kecamatan Girimarto, Slamet Widodo, saat berbincang dengan solopos.com di kantornya belum lama ini.

Di samping Slamet, ada Wardi, Sekretaris Desa Giriwarno Wardi lalu menceritakan sosok Rondo Kuning tak lepas dari keberadaan Giriwarno yang dienuhi hamparan sawah kala itu. Setiap musim panen tiba, desa itu terlihat kuning dipenuhi padi yang siap dipetik. Jika musim itu tiba, orang-orang desa berbondong-bondong ke sawah untuk derep atau memanen padi.

Namanya hidup di desa, mereka yang derep ke sawah adalah orang-orang miskin yang kurus, berkulit gelap dengan pakaian seadanya. Saat derep tiba itulah sosok perempuan jelita datang derep di antara barisan orang desa. Kulitnya yang kuning, paras ayu, jelas menjadi sorotan banyak orang di sawah.

Seorang petani lalu datang mendekatinya. Ia bertanya kepada perempuan itu. Namun, perempuan itu hanya menjawab, dia datang dari jauh dan berstatus janda. Tak banyak percakapan dilakukan lantaran semua tumpah ruah bekerja.

 “Keanehan terjadi saat semua orang yang derep ini antre untuk menerima bawon atau upah. Sosok perempuan tadi enggak ada. Dicari-cari ke mana-mana enggak ketemu. Orang-orang lalu berpikir, perempuan ini bukanlah sosok sembarangan,” kata Wardi.

 Karena perempuan yang berstatus janda dan berkulit kuning itulah orang-orang menamai daerah itu dengan sebutan Rondo Kuning. Lokasi persawahan itu kini berubah menjadi dua sekolah yakni SDN 1 dan SDN 2 Giriwarno serta kompleks kantor Desa Giriwarno.

Tafsir Mimpi

Seiring berjalannya, kisah Rondo Kuning seolah hidup kembali. Muriyadi, mantan Kades Giriwarno pada tahun 1990 sempat bermimpi ditemui sosok perempuan jelita yang ingin ikut dengannya. Ia merasa betah berada di dekat Muriyadi. Mendapati mimpi itu, Muriyadi mendatangi sejumlah ahli tafsir mimpi.

Melalui serangkaian upaya, ditemukanlah sebuah pusaka berbahan perunggu warna kuning dengan tinggi sekitar satu jengka orang dewasa. Pusaka itu berbentuk patung perempuan. Ia meyakini, pusaka itu merupakan jelmaan Rondo Kuning.

Dalam mimpinya pula, Muriyadi menerima permintaan agar pusaka itu diberikan tempat duduk. Namun, bukan kursi lazimnya tempat duduk, melainkan patung perempuan. Pada 1992, Muriyadi lantas berinisiatif mendirikan patung perempuan menyerupai pusaka itu kepada arsitek asal Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.

 Ada hal-hal aneh yang terjadi saat patung dibuat. Salah satunya adalah saat arsitek berusaha memotret pusaka untuk dibikin mock up. Hasilnya, foto itu selalu berkabut. Dalam foto tak pernah terlihat wujud patung. Namun, tergantikan oleh gambar bayang-bayang putih.

 “Padahal, buku di samping pusaka itu terlihat. Meja yang jadi alas juga terlihat. Di sinilah keanehannya,” beber Wardi. Solopos.com pun lalu mengurungkan niat memotret pusaka itu.

 Solusinya, Muriyadi lalu mencarikan patung serupa. Patung itu lalu diberikan kepada arsitek agar dibuatkan patung yang lebih besar. Maka dibangunlah patung perempuan yang kini ditemui di halaman SDN 1 Giriwarno. Lengan patung itu kini patah. Warnanya pudar. Namun, kecantikannya masih terlihat jelas.

 Slamet menimpali, kawasan patung Rondo Kuning itu dikenal kawasan wingit. Pernah seseorang tidur di balai desa yang sedang dibangun kala itu. Ia pun dipindah ke tempat jauh tanpa diketahui siapa yang memindahkannya. “Banyak cerita mistik soal keberadaan yang tak terlihat. Dari dulu di sini terkenalnya seperti itu,” tutur Kades Slamet.