Begini Wujud Alat Perebah Sapi Inovasi Takmir Masjid Agung Solo

Alat perebah sapi hasil inovasi takmir Masjid Agung Solo (Solopos/Nicolaus Irawan)
11 Agustus 2019 11:45 WIB Chelin Indra Sushmita Solo Share :

Solopos.com, SOLO – Takmir Masjid Agung Solo, Jawa Tengah menggunakan alat khusus perebah sapi dalam proses penyembelihan hewan kurban, Minggu (11/8/2019). Alat perebah sapi tersebut merupakan hasil inovasi takmir Masjid Agung Solo secara mandiri.

Alat khusus perebah sapi itu awalnya hendak dipakai menyembelih sapi kurban dari Presiden Jokowi. Namun, rencana itu dibatalkan karena ukuran sapi kurban Presiden Jokowi yang ukurannya terlalu besar. Sapi jenis simental dari peternakan Lembu Suro, Boyolali, Jawa Tengah itu bobotnya mencapai 1.505 kilogram.

Tetapi, berdasarkan pantauan jurnalis Solopos, Mariyana Ricky dan Nicolous Irawan, alat khusus perebah sapi senilai Rp21juta itu dipakai untuk menyembelih hewan kurban lainnya yang disalurkan lewat Masjid Agung Solo. Alat tersebut dibuat oleh takmir Masjid Agung Solo setelah melihat tayangan video di Youtube.

Alat tersebut berbentuk kubus yang bisa diputar. Sapi kurban awalnya dimasukkan ke kotak tersebut yang terdapat lubang khusus untuk menyembulkan kepala sapi. Kemudian, beberapa orang memutar alat tersebut untuk memudahkan proses penyembelihan.

Diberitakan Solopos.com sebelumnya, pengoperasian alat khusus perebah sapi itu membutuhkan tenaga minimal empat orang. Kasi TU Takmir Masjid Agung Solo, Muh. Alif, mengatakan alat perebah sapi hasil inovasi takmir masjid itu dioperasikan secara manual, tanpa menggunakan listrik atau hidrolik. Alat tersebut bisa digunakan untuk merebahkan sapi berbobot hingga 1,5 ton.

Posisi sapi yang sudah rebah tanpa harus dipegang banyak orang itu membuat proses lebih mudah. “Setelah sapi disembelih, menggunakan roda yang sama, alat dimiringkan sedikit lalu dindingnya ditarik ke atas. Berat sapi akan membuatnya jatuh ke tempat yang disediakan. Sesudah itu, proses penyembelihan sapi berikutnya bisa dimulai lagi,” jelas Alif.

Prosesnya juga berlangsung lebih cepat dibanding penyembelihan manual. Teknik operasional dimulai dari mendorong sapi ke alat perebah berukuran panjang 2,5 meter, lebar 1,4 meter, dan tinggi 1,85 meter itu.

Setelah sapi berada di tengah-tengah alat, salah satu dinding didorong menempel ke tubuh sapi hingga ke sisi dinding satunya. Pintu alat dikunci dan kepala sapi diletakkan di lubang berpengaman. Dua roda besar di kedua ujung alat kemudian diputar hingga sapi rebah. Saat itulah, giliran petugas penyembelih hewan bekerja menggunakan syariat Islam.