Kirab Grebeg Besar, Warga Berebut Berkah Lewat Gunungan Keraton Solo

Rangkaian acara Grebeg Besar Keraton Solo di Halaman Majid Agung Kota Solo Minggu (11/8/2019) pukul 11.00 WIB. (Nicolaus Irawan - Solopos)
11 Agustus 2019 18:30 WIB Ichsan Kholif Rahman Solo Share :

Solopos.com, SOLO - Lantunan suara gamelan mengiringi ratusan kerabat Keraton Kasunanan Surakarta yang berjalan dari keraton menuju halaman Masjid Agung Kota Solo. Dengan memakai pakaian adat Jawa dan membawa berbagai pusaka para pasukan Keraton Solo berjalan perlahan mengikuti irama gamelan yang dibunyikan.

Tepat di tengah kirab, dua gunungan yang terdiri dari hasil bumi dan olahan makanan dipanggul oleh para abdi dalem. Ratusan warga telah menunggu sejak pukul 10.00 WIB untuk menyaksikan kirab diadakan Keraton Kasunanan Surakarta dalam Grebeg Besar, Hari Raya Idul Adha, Minggu (11/8/2019) siang.

Gunungan setinggi dua meter itu pun lantas didoakan oleh para kerabat keraton di dalam Masjid Agung. Setelah doa selesai, warga yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia itu pun langsung memperebutkan isi gunungan itu. Hanya sekitar lima menit, gunungan berisi sayuran, jajan pasar, dan berbagai olahan makanan khas Jawa habis diperebutkan.

Salah seorang warga Kota Semarang, Andi Susanto, mengatakan sengaja datang dari Semarang untuk ikut mencari berkah pada Grebeg Besar Keraton Kasunanan Surakarta. "Sebagai orang Jawa ini sebuah kepercayaan. Gunungan yang telah didoakan akan membawa berkah bagi yang memperolehnya," ujarnya.

Menurutnya, sayuran seperti cabai dan kacang panjang ketika ditanam akan berbuah sangat banyak. Ia mempercayai, berbagai gunungan yang ia peroleh akan membawa kelancaran dalam usaha perdagangan.

Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Agung Kota Solo, Muhammad Muhtaram, saat dijumpai wartawan, mengatakan ada tiga macam Gerebeg Keraton yakni Sekaten, Puasa, dan Besar. Gerebeg memiliki makna simbol syukur dari Keraton Surakarta atas rezeki yang berlimpah dari Tuhan.

"Seluruh gerebeg simbolnya sama saja, makna juga sama. Terdapat dua gunungan yakni Gunungan Jalu dan Estri. Gunungan Jalu merupakan simbol lelaki sedangkan Estri merupakan simbol seorang perempuan," ujarnya.

Gunungan Jalu sebagai simbol lelaki berisi makanan yang masih mentah berarti seorang lelaki harus mencukupi kebutuhan keluarga dengan bekerja. Sedangkan, Gunungan Estri bersimbol perempuan berisi makanan siap saji berarti seorang istri harus dapat mengolah segala sesuatu yang telah diperoleh suami untuk kebutuhan keluarganya.

Ia menjelaskan sebenarnya gunungan sebagai simbol syukur itu tidak diperebutkan. Namun, dibagikan oleh kerabat keraton dengan merata. Hanya saja animo masyarakat sangat tinggi sehingga langsung berebut gunungan.

"Perintahnya saja apabila sudah didoakan dibagikan dengan merata. Gunungan yang dianggap ada keberkahan itu berasal dari Allah. Mintanya juga kepada Allah bukan meminta kepada barang-barang. Barang yang menjadi wasilah telah didoakan ya semoga mendapat berkah juga," ujarnya.