Bendera Identik HTI Berkibar di Masjid Baitul Makmur Solo Baru

Bendera bertuliskan kalimat tauhid berlatar belakang hitam dan putih terpasang di Masjid Baitul Makmur Solo Baru, Grogol, Sukoharjo, Minggu (11/8 - 2019). (Solopos/Indah Septiyaning W.)
11 Agustus 2019 18:00 WIB Indah Septiyaning Wardani/Adib Muttaqin Asfar Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Bendera bertuliskan tauhid masing-masing berlatar belakang hitam dan putih terpasang di Masjid Baitul Makmur Solo Baru, Grogol, Sukoharjo, Minggu (11/8/2019). Pengibaran bendera itu identik dengan atribut Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), yakni organisasi yang telah dibubarkan pemerintah.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, terdapat tiga bendera tauhid terpasang di atas bangunan masjid. Dua bendera berlatar belakang hitam dan satu bendara berlatar belakang putih terpasang di sana. Bendara berlatar belakang hitam terpasang di kanan dan kiri, sedangkan satu bendera tauhid berlatar belakang putih terpasang di bagian tengah.

Munculnya dua bendera bertuliskan tauhid masing-masing berlatar belakang hitam dan putih selalu menuai kontroversi. Hal ini karena atribut ini identik dengan HTI, organisasi yang telah dibubarkan pemerintah.

Camat Grogol, Bagas Windaryatno mengaku belum mengetahui adanya pengibaran bendera tauhid tersebut. Namun demikian pihaknya akan melakukan koordinasi bersama jajaran Muspika untuk menyikapi pemasangan bendera tersebut.

"Saya akan tanyakan dulu ke takmir masjid setempat maksud pemasangan dan tujuannya apa. Termasuk akan saya tanyakan dulu itu bendera apa," katanya.

Kontroversi Bendera Tauhid

Munculnya bendera yang diklaim sebagai bendera tauhid atau bendera al-liwa (latar belakang putih dengan tulisan hitam) dan ar-raya (latar belakang hitam dengan tulisan putih) kerap menjadi kontroversi. Para penggunanya mengklaim bendera ini adalah panji warisan zaman Rasulullah. Namun sebaliknya, berbagai pihak lain menyebutnya sebagai simbol ideologi tertentu atau organisasi terlarang.

Di Indonesia, kontroversi bendera ini menyeruak saat seseorang membawa bendera tersebut saat saat peringatan Hari Santri Nasional di Garut, Minggu (21/10/2018) lalu. Anggota Bantuan Serba Guna (Banser) NU lantas membakar bendera itu lantaran menilai bendera itu sebagai simbol Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), ormas yang telah dilarang.

Pembakaran itu berujung protes dari berbagai kelompok khususnya yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) -- kelompok pendemo Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebelum Pilkada Jakarta silam --, dan Persaudaraan Alumni 212. Mereka berdemo pada 26 Oktober 2018 dan 2 November 2018 untuk memprotes insiden pembakaran bendera itu.

Tak berselang lama, kasus bendera serupa muncul di Arab Saudi di tempat tinggal Rizieq Shihab. Hal ini berujung pemeriksaan terhadap Rizieq Shihab oleh kepolisian setempat. Kasus ini menunjukkan fakta bahwa Arab Saudi pun menganggap bendera ini sebagai simbol ideologi tertentu. Sebagai catatan, bendera Arab Saudi juga menggunakan kalimat tauhid namun menggunakan latar belakang hijau, bukan hitam atau putih.

Pendapat serupa juga pernah disampaikan putri pertama Presiden Ketiga RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid atau Alissa Wahid. Dia mengatakan bendera yang dibakar anggota Banser NU di Garut adalah bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Hal itu bisa ditelusuri dari jejak digital kelompok tersebut dalam berbagai aksi.

Walaupun HTI membantah itu bukan bendera HTI, namun Alissa mengatakan jika jejak digital di era teknologi saat ini tidak bisa dibantah. “Tidak ada bendera tauhid. Itu bendera HTI. Coba lihat foto setiap aksi HTI. Coba cek di kantor HTI. [meski organisasi terlarang] Kenapa HTI masih ada gerakannya?” katanya di Jogja, Jumat (26/10/2018) lalu.