Supeltas Liar di Solo Bikin Resah, Ini Bedanya dengan Supeltas Resmi

Petugas Supeltas berjaga di perempatan kawasan Coyudan, Solo, yang sepi pada Rabu (5/6/2019) pagi. (Solopos - Nicolous Irawan)
12 Agustus 2019 10:15 WIB Ichsan Kholif Rahman Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Satlantas Polresta Surakarta/Solo segera menertibkan sukarelawan pengatur lalu lintas (supeltas) liar yang beroperasi di kawasan Kota Solo. Hal itu dikarenakan banyak keluhan dari masyarakat yang menganggap kehadiran supeltas liar meresahkan.

Kasatlantas Polresta Surakarta, Kompol Busroni, saat jumpai wartawan, Minggu (11/8/2019), mengatakan penertiban segera dilakukan karena banyaknya laporan supeltas liar atau "Pak Ogah" sering memaksa meminta uang setelah mengatur lalu lintas atau membantu menyeberang pengguna jalan.

Menurutnya, langkah itu untuk melindungi supeltas resmi yang terdaftar dalam bertugas. Ia mengaku kepolisian sangat terbantu dengan keberadaan supeltas resmi yang berada di ruas jalan permukiman tertentu.

“Kami akan berkoordinasi dengan Satpol PP untuk menindaklanjuti rencana ini. Satpol PP Kota Solo yang berwenang melakukan penertiban supeltas liar," ujarnya.

Menurutnya, Satlantas telah memetakan lokasi supeltas liar lalu data tersebut akan diberikan pada Satpol PP agar ditindaklanjuti. Ia menjelaskan perbedaan supeltas resmi dan tidak terletak pada seragam yang dipakai. Seragam tersebut merupakan pemberian dari Satlantas sebagai identitas para supeltas.

Beberapa supeltas resmi telah dibekali dengan HT sebagai alat komunikasi dengan jajarannya. Hal itu dikarenakan supeltas resmi tidak hanya mengatur persimpangan tertentu. Namun, juga dilibatkan pengaturan lalu lintas ketika Kota Solo ada kegiatan besar maupun mendapat kunjungan kenegaraan.

Sementara itu, Satlantas juga membantu memeriksa kesehatan para supeltas yang mayoritas sudah berusia tua.

Pembina Supeltas, Aiptu Sri Widodo, mengatakan untuk saat ini anggota supeltas yang terdaftar secara resmi dan melalui pembinaannya terdapat 50 orang. Jumlah itu tidak bisa bertambah karena telah sesuai dengan luas Kota Solo yang tidak terlalu besar.

Ia menegaskan setiap akhir pekan, supeltas selalu memperoleh pelatihan tentang pengaturan jalan yang baik dan benar. Selain itu, pembinaan untuk selalu ramah dan sopan menjadi perhatian utama

"Supeltas juga selalu ditekankan untuk fokus sebagai sukarelawan dan tidak selalu terfokus pada pemberian uang. Sehingga, para supeltas resmi tidak ada yang memaksa ketika tidak diberi uang oleh pengguna jalan," urai dia.

Menurut dia, penempatan supeltas juga telah melalui kajian khusus. Para supeltas tidak ditempatkan di ruas jalan protokol dan lokasi rawan kecelakaan. Supeltas ditempatkan di ruas jalan berintensitas tinggi dan rawan macet namun tidak melaju kencang.