Parah! Kebakaran 2 Hari Hanguskan 9 Bukit di Wonogiri

Petugas damkar dan sukarelawan memadamkan api yang membakar lahan di Selogiri, Wonogiri, Sabtu (10/8 - 2019). (Istimewa)
12 Agustus 2019 16:15 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Kebakaran lahan yang terjadi sejak Sabtu (10/8/2019) pagi hingga Minggu (11/8/2019) menghanguskan sembilan bukit di tiga kecamatan dan dua kabupaten ykani Bulu, Sukoharjo; Selogiri dan Manyaran, Wonogiri.

Pantauan Solopos.com, Senin (12/8/2019), di kawasan lereng bukit Ngemplak, Kepatihan, Selogiri, Wonogiri, yang sebelumnya terbakar sudah tidak tampak kepulan asap. Di lereng itu terlihat lahan yang hitam bekas terbakar dengan cakupan luas, yakni dari sisi barat hingga timur dengan bentang lebih kurang 1 km.

Sukarelawan yang juga Ketua RT 003/RW 004 Ngemplak, Kadiman, saat ditemui Solopos.com, Senin, menginformasikan api masih terlihat mengepul pada Minggu petang. Setelah malam asap tak terlihat lagi karena gelap.

Pada Senin pagi asap sudah tidak terlihat lagi. Dia bersama warga sudah mengecek lokasi yang terbakar. Dia mencatat area yang terbakar meliputi, Gunung Soko/Jorok (Karang Gayam, Kedungsono, Bulu, Sukoharjo), Watu Dukun (sebagian Ngemplak, sebagian Gembok, Bero, Manyaran, Wonogiri), dan deretan gunung di Ngemplak, yakni Pandak Lemah sisi barat, Song Bangku, Gunung Mundri, Guwo, Bale, Rego Boyo, dan Ganden.

Hanya, dia tak dapat memperkirakan luasan area yang terbakar. Saat api membakar di area Karang Gayam, aparat dari Polsek Bulu, Koramil Bulu, dan Pemerintah Kecamatan Bulu turut meninjau lokasi.

Sementara saat api membakar di area Gembok, sukarelawan dari dusun setempat juga turut memadamkan api. “Hampir tiap kemarau ada kebakaran hutan di dekat Ngemplak. Kejadian kali ini paling parah. Cakupan lahan yang terbakar jauh lebih luas dari tahun-tahun sebelumnya. Anehnya, lokasi yang terbakar kali pertama selalu di Karang Gayam,” kata Kadiman diamini sejumlah warga lainnya.

Dia melanjutkan kronologi awal kejadian setiap peristiwa sama, yakni api berasal dari lokasi yang tak jauh dari rumah warga, lebih kurang 25 meter (m)-30 m. Setelah itu api menjalar ke timur di kawasan Ngemplak.

Meski indikasi sudah cukup terang, dia tak ingin berspekulasi terkait penyebab kebakaran. Kadiman hanya berpandangan kemungkinan kecil api muncul dengan sendirinya.

Dia mengatakan lima hingga enam tahun lalu memergoki salah satu warga Karang Gayam, Sn, yang membakar tumpukan daun jati kering. Saat itu api dapat dipadamkan sebelum membakar ke area lain. Tahun-tahun berikutnya terjadi kebakaran lahan tanpa diketahui penyebabnya.

“Dia [Sn] menderita gangguan jiwa yang sering kambuh. Kadang mainan api, kadang dia juga mengamuk. Pemangku kepentingan Kedungsono pernah saya kasih masukan perlu ada upaya antispasi agar dia [Sn] tak membakar dedaunan. Tapi enggak tahu ditindaklanjuti atau tidak,” imbuh Kadiman.

Pada kebakaran kali ini warga Ngemplak bergotong royong menghalau api agar tak merambat ke permukiman penduduk dan tak menghanguskan paralon saluran air bersih. Langkah itu dilakukan sebelum api menuju ke lokasi yang dikhawatirkan tersebut.

Dia bersyukur akhirnya api dapat dicegah merambat ke area itu. “Kami bisanya mencegah api biar tak merambat ke area vital. Kalau yang di lereng atau puncak bukit enggak bisa dipadamkan karena enggak bisa dijangkau,” ulas dia.

Terpisah, Suradi, 52, warga Karang Gayam, mengatakan kebakaran lahan telah menghanguskan kayu-kayu yang setiap hari dia cari. Akibatnya, dia tak bisa lagi bekerja mencari kayu. Dia mengaku bingung harus bekerja apa lagi selain mencari kayu.