Dam Colo Sukoharjo Ditutup 2 Pekan Lebih Awal, Salah Pengoperasian?

Kondisi air di Bendung atau Dam Colo Nguter Sukoharjo belum lama ini. (Solopos - Indah Septiyaning W.)
13 Agustus 2019 20:15 WIB Indah Septiyaning Wardhani Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Bendung atau Dam Colo di Kecamatan Nguter, Sukoharjo, akan ditutup lebih awal yakni pada 15 September 2019. Biasanya, penutupan rutin untuk pemeliharaan bendung itu dilakukan tiap 1 Oktober.

Artinya, tahun ini penutupan bendung yang rencananya berlangsung selama sebulan itu dilakukan dua pekan lebih cepat dibanding biasanya. Hal itu menimbulkan kekhawatiran di kalangan petani yang menanam pada musim tanam ini.

Ribuan hektare areal persawahan di empat wilayah meliputi Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, dan Ngawi terancam kekeringan hingga puso atau gagal panen. Untuk menghindari hal tersebut, para petani di wilayah tersebut diminta mulai menyiapkan sumber-sumber alternatif guna mengantisipasi kekeringan.

Ketua Induk Paguyuban Petani Pengguna Air (P3A) Dam Colo Timur, Jigong Sarjanto, mengatakan penutupan saluran air Dam Colo Timur lebih cepat karena kesalahan pola operasi oleh Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA).

Kesalahan pola operasi bermula sejak memasuki musim kemarau tahun ini. Mestinya sesuai pola operasi di awal musim kemarau pada 1 Mei lalu, debit air yang dikeluarkan berkapasitas 10 meter kubik per detik atau di bawahnya.

“Namun yang terjadinya outflow-nya lebih besar dari 10 meter kubik per detik. Di mana saat itu oleh Jasa Tirta saluran induk Colo Timur diberikan 18 meter kubik per detik atau melebihi kebutuhan,” jelasnya ketika berbincang dengan wartawan, Selasa (13/8/2019).

Kapasitas air saluran induk Colo Timur tersebut diberikan flat selama dua bulan terhitung Mei-Juni sebesar 18 meter kubik per detik. Hal ini tidak sesuai kebutuhan riil petani di empat wilayah yang dilalui saluran induk Colo Timur.

Empat wilayah itu meliputi Sukoharjo, Sragen, Karanganyar, dan Ngawi dengan total luas area lahan mencapai 21.000 hektare. Kekeliruan ini berdampak pada kondisi air yang semestinya dibutuhkan petani di saat puncak musim kemarau lebih besar dibanding awal musim kemarau lalu.

“Sejak awal Agustus, kapasitas air yang diberikan hanya 13 meter kubik per detik. Kemudian pertengahan Agustus diturunkan menjadi 12 meter kubik per detik, sampai September nanti direncanakan menjadi 11 meter kubik per detik,” katanya.

Kondisi ini, lanjut dia, berdampak pada aksi protes para petani terutama di wilayah Karanganyar, Sragen, dan Ngawi mengingat potensi kekurangan air untuk wilayah tersebut lebih besar dibandingkan Sukoharjo. Apalagi rata-rata usia tanaman padi sudah dewasa dan siap panen sehingga membutuhkan air yang lebih besar.

Para petani khawatir padi di sawahnya akan puso lantaran kekurangan air. “Kemarin dikasih 13 meter kubik per detik tapi diprotes petani Sragen karena tidak bisa dibagi,” tuturnya.

Sebagai solusi mulai Selasa tepat pukul 00.00 WIB, kapasitas air dinaikkan menjadi 16 meter kubik per detik. Kapasitas ini diberikan secara flat dan diperkirakan hanya mampu mengaliri lahan pertanian di saluran induk Dam Colo Timur hingga 15 September mendatang.

Kondisi tersebut lebih cepat dua pekan dari jadwal penutupan rutin Dam Colo yakni pada 1 Oktober. Secara otomatis, percepatan waktu penutupan saluran induk Colo Timur akan berdampak pada nasib lahan persawahan yang belum memasuki masa panen dan masih membutuhkan air.

Saat ini sosialisasi kepada para petani terus dilakukan guna mengantisipasi lahan pertanian puso atau gagal panen akibat tak ada air. Petani diharapkan mulai mencari sumber-sumber air alternatif seperti memanfaatkan sumur pantek maupun air sungai.

“Kami hanya berdoa semoga turun hujan sehingga sawah petani bisa tertolong,” katanya.

Sikap berbeda diambil petani di saluran induk Colo Barat. Ketua P3A Colo Barat, Wiyoto, meminta penutupan Dam Colo tetap dilakukan pada 1 Oktober mendatang. “Jadi kami tidak sepakat jika Dam Colo ditutup 15 September. Kami tetap minta Dam Colo dibuka sampai 1 Oktober,” katanya.