Pengakuan Siti Wakidah Ibu yang Aniaya Anaknya Hingga Meninggal di Boyolali

Siti Wakidah, 30, memeragakan adegan meremas punggung anaknya dalam rekonstruksi kasus penganiayaan berujung kematian di Desa Tanduk, Ampel, Boyolali, Selasa (13/8/2019). (Solopos - Akhmad Ludiyanto)
13 Agustus 2019 19:35 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Siti Wakidah, 30, menjalani rekonstruksi kasus penganiayaan yang dilakukannya terhadap anaknya, Fadli Fabian Saputra, 6, hingga meninggal di Desa Tanduk, Ampel, Boyolali, Selasa (13/8/2019).

Pada kesempatan itu, Siti sempat berbicara kepada wartawan. Dia mengaku tidak punya niat menghilangkan nyawa saat melakukan kekerasan terhadap anaknya sendiri.

Dia hanya kesal karena sang anak rewel, sedangkan Siti juga harus merawat dua anak lainnya yang masih kecil. “Dia memang sedang tidak enak badan [sehingga rewel],” ujar Siti yang terlihat tenang sambil menundukkan kepala.

Namun bukannya memberi perhatian lebih kepada Fadli, Siti justru memperlakukan anaknya itu dengan kekerasan. Peristiwa tersebut terjadi antara tanggal 8 Juli hingga 10 Juli 2019 saat suami Siti, Iwan, sedang tidak berada di rumah.

Siti yang saat rekonstruksi itu memakai baju tahanan Polres Boyolali mengaku mencubit, memukul, bahkan membenturkan kepala anaknya itu ke lemari yang ada di dalam rumah.

Keterangan Siti juga diperagakan dalam rekonstruksi yang terbagi dalam 21 adegan. Akibat kekerasan-kekerasan itu, Fadli mengalami luka dalam di bagian kepala yang diperkirakan menjadi penyebab kematian Fadli pada 11 Juli 2019.

Bocah tersebut kemudian dimakamkan di tempat asal Siti di Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang. Kini Siti mengaku menyesal dan sedih membuat anaknya meninggal dunia.

“Saya menyesal dan sedih,” ungkapnya didampingi petugas Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Boyolali di lokasi.

Kapolres Boyolali AKBP Kusumo Wahyu Bintoro mengatakan Siti melakukan kekerasan itu secara sadar. Hasil pemeriksaan dari Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Solo juga menyatakan Siti sehat secara kejiwaan/psikis.

“Tersangka ini sehat. Artinya dia melakukan itu dengan sadar,” ujarnya.

Disinggung mengenai latar belakang terjadi kekerasan itu, Kapolres mengatakan faktor ekonomi menjadi pemicunya.

“Ya karena dia mungkin kesal tidak punya apa-apa, sementara dia harus merawat anak-anak,” imbuhnya didampingi Kasatreskrim Iptu Mulyanto.

Dia menambahkan rekonstruksi tersebut digelar untuk menyinkronkan keterangan tersangka dan para saksi. Rekonstruksi juga dipantau langsung Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Prihatin dan Dandim 0724/Boyolali Letkol (Kav) Herman Taryaman.