Warga Tak Akan Leluasa Nonton Pawai Pembangunan di Jensud Solo, Ini Penyebabnya

Pekerja menggunakan eskavator mengeruk aspal jalan pada proyek penataan koridor Jl. Jenderal Sudirman, Solo, Selasa (11/9 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
16 Agustus 2019 07:00 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Warga tak akan leluasa menonton pawai pembangunan dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Kemerdekaan RI khususnya di sepanjang Jl. Jendral Sudirman (Koridor Jensud) Solo, Minggu (18/8/2019).

Meski koridor yang tengah dalam proyek penataan itu akan dibuka, pagar MMT di sekeliling proyek bakal tetap terpasang. Warga hanya bisa menyaksikan pawai di bagian yang tidak terpasang pagar MMT.

Pagar MMT penutup proyek dibiarkan terpasang lantaran di bagian samping kanan-kiri atau barat dan timur ruas itu masih terdapat material proyek yang membahayakan penonton.

Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Solo, Arif Nurhadi, mengatakan bagian tengah koridor siap mengakomodasi arak-arakan peserta pawai karena sudah selesai dikerjakan.

“MMT penutup di Bundaran Gladag atau di sekitar Patung Slamet Riyadi akan dibuka karena sudah selesai. Tapi, mulai dari depan GPIB Penabur sampai Gedung Bank Indonesia (BI) lama masih dibiarkan [terpasang] karena pas di bawah pagar MMT itu ada lubang galian yang berisi tulangan besi," jelas Arif, Kamis (15/7/2019).

Lebar bagian tengah koridor Jensud yang bisa dilewati pawai sekitar 12 meter. Dengan lebar segitu, trailer panjang masih bisa lewat. "Penonton bisa menyaksikan pawai kecuali di titik yang MMT-nya masih terpasang. Bisa di Jl. Slamet Riyadi atau depan Kantor BRI Jl. Jendral Sudirman sampai Balai Kota," imbuh Arif.

Arif mengaku sempat membuat alternatif agar pagar MMT dibuka sehingga masyarakat bisa leluasa menyaksikan pawai dari sudut itu. Namun langkah tersebut membutuhkan biaya tinggi lantaran harus memotong tulangan besi dan menutup lubang galian.

Padahal, tulangan besi itu akan dilanjutkan menjadi fondasi saat meneruskan pengerjaan di bagian tepi. Aktivitas memotong tulangan besi dan menutup lubang galian itu juga butuh waktu lama, paling tidak sepekan.

Hal itu bisa saja dilakukan tapi dikhawatirkan akan merusak fondasi yang sudah terpasang. "Kalau dipaksakan dibuka membahayakan penonton karena lubangnya cukup lebar,” ucap Arif.

Dinas Perhubungan (Dishub) akan memasang water barrier di antara jalur tengah yang dibuka dengan lubang galian dan pagar MMT. Dengan demikian, kendaraan juga tak akan terperosok ke lubang tersebut.

Arif menyebut kondisi beton fondasi di ruas itu sudah berumur sehingga dapat dilewati kendaraan bertonase berat. Campuran bahan penguat berupa zat aditif di dalamnya memungkinkan beton lebih cepat kering.

“Tanpa zat aditif, beton itu baru kering sekitar 20-21 hari. Kalau pakai zat aditif cukup 10-15 hari. Beton yang di sana sudah berumur lebih dari dua pekan, bahkan dua bulan dan tiga bulan,” jelasnya.

Kabid Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata (Dispar) Solo, Nunuk Mari Hastuti, menyampaikan Pawai Pembangunan 2019 melibatkan berbagai elemen masyarakat. Rute dimulai dari Jl. Bhayangkara, Stadion Sriwedari, hingga Balai Kota melintasi Jl. Slamet Riyadi dan Jl. Jenderal Sudirman.

“Masyarakat bisa menonton pawai itu di jalur pedestrian atau di tepi jalan sepanjang rute, kecuali di Jl. Jenderal Sudirman yang pagar MMT-nya masih terpasang,” kata Nunuk, Selasa (13/8/2019).