Anggota Paskibra di Colomadu Karanganyar Menangis

Anggota Paskibra Kota Solo membentangkan bendera Merah Putih saat upacara HUT ke-73 Kemerdekaan RI di Stadion Sriwedari, Solo, Jumat (17/8 - 2018). (Solopos/Indah Septiyaning W.)
16 Agustus 2019 07:30 WIB Iskandar Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Sebanyak 70 anggota pasukan pengibar bendera (Paskibra) Kecamatan Colomadu, Karanganyar, dari berbagai sekolah dikukuhkan Camat Colomadu, Yophy Eko Jatiwibowo, di halaman Kantor Kecamatan Colomadu, Kamis (15/8/2019) sore. Sebelum dikukuhkan, mereka sungkem kepada orang tua masing-masing.

Para orang tua memang dihadirkan di Kantor Kecamatan Colomadu. Hal ini membuat para anggota Paskibra menangis.

“Momen sungkem ke orang tua masing-masing diiringi lagu-lagu dari koor Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia ini yang membuat suasana berubah menjadi haru. Banynak anggota Paskibra dan tamu undangan yang tak kuasa menahan haru sehingga menangis,” ujar Yophy ketika dihubungi melalui telepon selulernya seusai acara, Kamis petang.

Menurut Yophy, 70 orang anggota pasukan Paskibra ini terdiri atas para pengibar bendera dengan susunan 17-8-45. Setelah sungkem dengan orang tua masing-masing, mereka baru dikukuhkan dengan mencium bendera merah-putih yang telah disediakan.

Momen tersebut, ujar Yophy, sempat kembali memicu suasana haru bagi para Paskibra. Di antara mereka banyak yang tak kuasa menahan haru hingga menangis.

Lebih lanjut dia menjelaskan, mereka yang telah berlatih beberapa pekan ini dijadwalkan menjalankan tugas pada upacara 17 Agustus di Lapangan Baturan, Sabtu (17/8/2019). Upacara tahun ini bertema penuntasan sampah di desa. Hal ini sejalan dengan program Bupati Karanganyar, Juliyatmono, yang dicanangkan beberapa waktu lalu.

Terkait dengan hal tersebut seluruh kepala desa di Colomadu sebelum mengikuti upacara di Lapangan Baturan dijadwalkan transit di tempat pembuangan sampah (TPS) sementara di Baturan. Dari tempat itu mereka akan diangkut dengan kendaraan roda tiga yang biasa digunakan untuk mengangkut sampah menuju tempat upacara.

“Nanti para kepala desa dan forum pimpinan kecamatan transit di TPS dulu. Kami semua biar tahu dan merasakan bagaimana ngurusi sampah sehari-hari,” kata Yophy.