Tak Ingin Cabai Terus-Terusan Jadi Pemicu Inflasi, Ini Langkah BI Solo

Petani merawat tanaman cabai di klaster cabai binaan Bank Indonesia (BI) Solo di Sumberlawang, Sragen. (Istimewa)
19 Agustus 2019 23:15 WIB Farida Trisnaningtyas Solo Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Solo terus berupaya menekan harga cabai agar tidak terus-terusan menjadi pemicu inflasi di Solo.

Salah satunya dengan meneruskan pendampingan berkelanjutan terhadap klaster cabai di Desa Ngargotirto, Sumberlawang, Sragen, yang telah dimulai sejak 2015 lalu.

Seperti diketahui, cabai kerap menjadi komoditas pemicu inflasi di Soloraya karena harganya stabil tinggi. Kenaikan harga cabai ini lantaran hasil panen yang tak banyak sehingga mempengaruhi pasokan dari daerah sentra produksi.

Varietas cabai yang banyak dikembangkan di Sumberlawang adalah cabai rawit. Penyuluhan konsultan serta perencanaan pendampingan dilaksanakan pada Jumat (16/8/2019).

Ini sebagai bagian dari program pengembangan usaha mikro kecil menengah (UMKM) menggunakan pendekatan klaster dalam rangka mendukung program pengendalian inflasi melalui penguatan di rantai suplai (supply chain).

Kepala KPw BI Solo, Bambang Pramono, mengatakan tanaman cabai adalah cuaca. Ini menjadi salah satu faktor penentu produktivitas cabai. Maka dari itu, ketersediaan pasokan air saat musim kemarau menjadi prasyarat agar petani cabai dapat menanam cabai pada semua musim.

Menurutnya, dengan pola tanam pada segala musim, diharapkan produktivitas cabai rawit meningkat dan dapat memenuhi permintaan konsumsi cabai di Soloraya.

“Klaster cabai di Sumberlawang, Sragen, memiliki produktivitas rendah, yakni sekitar 4,5 ton per hektare. Namun demikian, ini berpotensi untuk bisa ditingkatkan,” ujarnya kepada wartawan, akhir pekan lalu.

Lebih lanjut Bambang menambahkan pendampingan untuk peningkatan produktivitas ini dilaksanakan melalui pilot project implementasi teknologi. Hal ini meliputi pengolahan lahan dengan kultivator, penyediaan air dengan pompa, dan perlindungan tanaman dari serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) dengan sarana mulsa, dan rain shelter.

Selain itu, pendampingan intensif oleh petugas penyuluh lapangan (PPL) setempat dalam teknis budidaya dilakukan melalui kerja sama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Sragen.

Mengingat dampak musim kering panjang pada 2019 ini, BI menyerahkan bantuan yang terdiri atas 10 unit pompa air untuk dipergunakan mengairi lahan cabai klaster cabai Gapoktan Ngargotirto Makmur yang telah mulai ditanami, meskipun musim kemarau.

Di sisi lain, pelaksanaan program Gerakan Tanam Cabai di Segala Musim untuk menjadi percontohan dalam rangka mendukung ketersediaan pasokan yang kontinu.

“Komoditas penyumbang inflasi terbesar pada Juli 2019 adalah cabai rawit yang mengalami inflasi sebesar 61,39% [month to month/mtm], cabai merah mengalami inflasi 26,80% [mtm], serta cabai hijau mengalami inflasi 38,35% [mtm]. Ini menyebabkan inflasi Kota Solo pada Juli 2019 sebesar 2,65 [yoy], lebih rendah dari pada inflasi Jawa Tengah dan nasional,” imbuhnya.

Di samping itu, KPw BI Solo melaksanakan program pengembangan UMKM menggunakan pendekatan klaster dalam bentuk bantuan teknis dari sisi on-farm maupun off-farm. Misalnya dari sisi teknis budidaya, pengolahan pasca produksi, perluasan akses pasar, akses informasi, akses permodalan, pemasaran, manajemen usaha, dan penguatan kelembagaan.

Sebelumnya, pada 2015-2018, BI Solo telah mengembangkan klaster cabai Poktan Subur Makmur, Desa Ngroto, Kismantoro, Wonogiri. Klaster cabai Gapoktan Ngargotirto Makmur di Sumberlawang, Sragen, sebagai perluasan.

Lahan percontohan pertama di Sumberlawang, Sragen, luasnya sekitar 2,5 ha untuk 10 anggota klaster. Satu anggota klaster bisa menanam setidaknya sebanyak 5.000 batang cabai.

Salah satu anggota klaster, Joko Supangyanto, mengatakan mesti berjuang keras untuk merawat 5.000 batang tanaman cabai saat kemarau ekstrem. Menurutnya, kemarau panjang tahun ini cukup menguras tenaga serta otak untuk mengatasi kendala seperti penyakit thrips dan kekurangan air.