4 Embung Di Daerah Kekeringan Wonogiri Direvitalisasi, Mana Saja?

Ilustrasi embung. (Antara/Sumarwoto)
20 Agustus 2019 03:30 WIB Cahyadi Kurniawan Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Empat embung di tiga kecamatan yang masuk wilayah rawan kekeringan Wonogiri direvitalisasi guna mengatasi masalah krisis air.

Revitalisasi keempat embung itu menggunakan dana bantuan dari Provinsi Jawa Tengah (Jateng). Empat embung itu masing-masing dua unit di Kecamatan Giritontro, satu unit di Paranggupito, dan satu unit di Pracimantoro. Tahun ini, embung itu sudah memasuki proses konstruksi.

“Embung itu nanti tak hanya sebagai sumber air tapi juga bisa dikelola sebagai tujuan wisata seperti di Bayemharjo, misalnya,” kata Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Bambang Haryanto, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Senin (19/8/2019).

Ia menjelaskan selain revitalisasi embung, penanganan kekeringan di Wonogiri ditempuh dengan mengoptimalkan sumber-sumber air untuk disalurkan ke wilayah terdampak. Selain itu, Pemkab juga mendorong pembuatan penampungan air hujan komunal serta toren baru.

“Penanganan kekeringan di Wonogiri ini terkendala dua hal yakni kesulitan sumber air serta elevasi yang tinggi. Hal ini menyulitkan distribusi air ke wilayah terdampak,” terang dia.

Tahun ini, lanjut Bambang, ada sejumlah desa yang terbebas dari kekeringan seperti di Joho, Sumberagung, Ngadipiro, dan lainnya. Namun, di saat yang sama muncul wilayah terdampak kekeringan baru seperti di Pucanganom, Ngancar, Wonoharjo, Baleharjo, Sumberharjo, dan Pijiharjo.

Munculnya desa baru yang kekeringan ini dipicu tidak adanya upaya konservasi air. Upaya ini melibatkan banyak pihak termasuk masyarakat. Hilangnya daya dukung lingkungan untuk menyimpan air salah satunya karena maraknya penebangan hutan.

“Selain itu, kebakaran lahan misalnya, juga memicu sumber-sumber air hilang. Tanaman mati kemudian tanah menjadi rekah. Kalau rekah, tanah tidak bisa menyimpan air. Maka, perlu ada pemahaman kepada masyarakat. Kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan perlu ditingkatkan,” imbuh dia.

Menurut informasi dari BMKG, lanjut Bambang, hujan diprediksi turun pada Oktober-November. Ia meminta masyarakat agar berhemat dalam penggunaan air. Dampak kekeringan tidak hanya soal air bersih melainkan kebakaran hutan dan lahan, pangan, pertanian, kesehatan, hingga menurunnya populasi ternak, ikan, hingga serangan kera.

“Kita harus menjaga alam, alam pun akan menjaga kita. Upaya sederhana itu bisa dimulai dengan bikin sumur resapan di pekarangan misalnya agar air tertampung. Kalau tidak ada upaya konservasi, air tidak hilang, hanya berpindah,” urai dia.