Keluarga Ungkap Kejanggalan Kematian Wondri Yang Ditembak Polisi Wonogiri

Warga melayat ke rumah tempat disemayamkannya jenazah Andri Novianto atau Wondri di Bauresan RT 004/RW 002, Giritirto, Wonogiri, Rabu (21/8/2019). (Solopos - Rudi Hartono)
23 Agustus 2019 19:15 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Kerabat Andri Novianto alias Wondri, residivis kasus pembunuhan dan sejumlah kasus kejahatan lainnya yang meninggal karena tembakan polisi, Selasa (20/8/2019) malam lalu, berencana menempuh jalur hukum.

Mereka ingin menuntut keadilan atas kematian Wondri di tangan polisi. Kerabat meyakini Wondri ditembak tanpa melalui prosedur yang benar.

Seperti diketahui, Wondri, 37, yang ditangkap saat mengamuk di toko aksesori telepon seluler (ponsel) Kartika dekat Pasar Kota Wonogiri, meninggal pada malam yang sama karena ditembak polisi. 

Menurut polisi, tembakan itu terpaksa dilepaskan karena Wondri berusaha merebut senjata polisi saat diminta menunjukkan parang/pedang yang digunakannya untuk melukai warga Kaloran, Giritirto, beberapa waktu sebelumnya. Petugas sudah memberikan tembakan peringatan ke atas agar Wondri menyerah namun Wondri tak menggubrisnya.

Paman Wondri, Marno, 60, saat ditemui Solopos.com di rumahnya di Bauresan RT 004/RW 002, Giritirto, Kecamatan/Kabupaten Wonogiri, Jumat (23/8/2019), mengatakan semua kerabat menyangsikan keterangan polisi yang menyebut Wondri ditembak karena merebut atau berusaha merebut senjata petugas. 

Menurut Marno, keterangan itu tak relevan dengan fakta yang terjadi. Dia menilai keterangan itu hanya alasan polisi untuk mengaburkan peristiwa sebenarnya.

“Justru keterangan polisi itu semakin mempertegas adanya kejanggalan,” kata Marno didampingi istrinya, Katiyem, yang merupakan bulik Wondri.

Dia menilai sejak awal peristiwa yang melingkupi kematian Wondri janggal. Saat mayat Wondri disemayamkan di RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri, Marno dan kerabat lainnya dilarang melihat jenazah tersebut. 

Kejanggalan lainnya, polisi mengaitkan Wondri dengan kasus sepekan sebelum peristiwa di Kartika, yakni penganiayaan Sasongko, 26, warga Kaloran. Padahal, kasus penganiayaan tersebut sudah diselesaikan secara kekeluargaan. 

Kedua belah pihak sudah berdamai. Namun, polisi justru mengaitkan Wondri dengan kasus itu. Sementara pada Selasa malam itu peristiwa yang terjadi adalah Wondri meminta uang di Kartika.

“Ini bisa jadi hanya alasan polisi. Mana ada kasusnya Wondri meminta uang keamanan di Kartika, tapi polisi menindaknya atas kasus penganiayaan yang kejadiannya sepekan sebelumnya,” imbuh Marno.

Kejanggalan lainnya, mayat Wondri, terutama muka sisi kiri, lebam, mulutnya mengeluarkan darah terus, dan kedua tangannya patah. Katiyem mengaku melihat luka-luka itu saat membuka kain kafan Wondri sesaat sebelum dimakamkan.

“Dadanya ada satu luka lubang dan dua lubang di perutnya. Kemungkinan ditembak dari jarak dekat,” ulas Marno diamini Katiyem.

Marno dan istrinya tak percaya dengan keterangan polisi yang menyebutkan Wondri ditembak karena melawan petugas. Marno menilai kemungkinan kecil Wondri bisa merebut senjata petugas sebab saat itu tangannya diborgol dan matanya ditutup lakban. 

Dua teman Wondri menyaksikan hal itu saat polisi akan membawanya ke tempat lain dari depan toko Kartika.

“Kami akan fokus memikirkan proses hukum selanjutnya setelah tujuh hari kematian Wondri. Kami akan menggandeng pengacara dari LBH [Lembaga Bantuan Hukum]. Saya sudah berkoordinasi dengan salah satu pengacara. Kalau ke depan diperlukan autopsi jasad Wondri, kami tak mempermasalahkan. Banyak pihak mendukung langkah yang akan kami ambil ini,” ucap Marno.

Terpisah, Kasatreskrim Polres Wonogiri, AKP Purbo Ajar Waskito, saat dimintai tanggapan menyatakan siap memberi penjelasan kepada kerabat Wondri segamblang-gamblangnya jika diminta menjelaskan kronologi penembakan Wondri. 

Dia juga siap menghadapi jika kerabat Wondri menempuh jalur hukum. Dia menegaskan petugas menembak Wondri sudah sesuai prosedur yang diatur dalam Peraturan Kapolri (Perkap). 

Jika tak menembak, keselamatan petugas justru terancam. Saat itu Wondri berusaha merebut senjata petugas saat diminta menunjukkan barang bukti parang/pedang yang digunakan untuk melukai Sasongko, warga Kaloran, beberapa hari sebelum Wondri ditembak.