1.391 Ha Sawah di Wonogiri Puso, Cuma 2 Ha Diasuransikan

Petani menunjukkan areal sawah yang tanahnya retak/retak karena tidak ada air. (Antara/Akhmad Nazaruddin Lathif)
04 September 2019 14:15 WIB Cahyadi Kurniawan Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI — Luas lahan puso akibat kekeringan di Wonogiri per Juli 2019 mencapai 1.391 hektare sawah. Angka itu berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Wonogiri

Luas lahan terdampak kekeringan itu secara terperinci meliputi 1.372 hektare rusak ringan, 1.383 hektare, 1.412 hektare rusak berat, dan 1.391 hektare sawah mengalami puso. Total sawah terdampak akibat kekeringan mencapai 5.558 hektare. Sawah yang puso ini berjumlah sekitar 2 persen dari total luas lahan tanam 78.939 hektare pada tahun lalu.

Kekeringan di Wonogiri merupakan hal yang lazim terjadi sepanjang tahun. Namun, tahun ini menjadi kekeringan paling parah dalam lima tahun terakhir. Hal itu dipicu musim kemarau datang lebih cepat.

Informasi yang dihimpun solopos.com, hujan terakhir di Wonogiri terjadi pada 5 April lalu. Berdasarkan data dari laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 2 September 2019, Wonogiri dan kawasan Soloraya masuk dalam kawasan kekeringan ekstrem yakni lebih dari 60 hari tanpa hujan.

“Petani pada masa tanam mungkin masih ada air. Namun, makin ke sini malah kesulitan air. Akibatnya puso. Kami tidak bisa melarang petani tidak menanam karena ini menjadi kebiasaan petani,” kata Kepala DPP Wonogiri, Safuan, saat dihubungi solopos.com, Selasa (3/9/2019).

Ia menjelaskan lahan terdampak puso itu umumnya tidak diikutsertakan dalam asuransi. Dari 1.391 hektare itu hanya dua hektare lahan yang ikut asuransi. Di Wonogiri sendiri ada 573 hektare lahan sawah yang memiliki asuransi.

“Kami terus mendorong petani agar mengasuransikan tanamannya. Hal itu penting agar saat terjadi kerugian ada yang menanggung. Jadi lebih nyaman,” ujar dia.

Lahan puso itu berdampak pada hilangnya potensi produksi padi. Menurut Safuan, dalam satu hektare sawah bisa menghasilkan rata-rata 5,4 ton gabah keirng giling (GKG). Jika dihitung, potensi padi yang hilang akibat puso mendapai 7.500 ton GKG. Namun, hal itu diyakini tidak akan berdampak pada terjadinya kerawanan pangan.