DLH Jawa Tengah Gelar Pertemuan Bahas Limbah Ciu

Pengambilan sampel air baku PDAM Solo di tempuran Kali Samin dan Sungai Bengawan Solo, Rabu (11/9 - 2019). (Solopos/Mariyana Ricky P.D.)
13 September 2019 09:30 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Tengah mengirimkan undangan pertemuan pada Senin (16/9/2019) mendatang. Pertemuan tersebut bakal membahas penanganan pencemaran air Sungai Bengawan Solo.

Sejumlah pihak yang diundang di antaranya Perumda Air Minum Toya Wening Solo, Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS), Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sukoharjo dan Solo, serta Paguyuban UMKM Etanol Polokarto dan Mojolaban Sukoharjo.

Kabid Pengelolaan Sampah, Limbah B3, Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Jawa Tengah, Tri Astuti, mengatakan rapat koordinasi diharapkan mampu menggali sumber masalah sehingga bisa ditemukan solusinya.

“Kami akan bicarakan pokok masalahnya apa dan coba kami cari solusinya apa. Lalu, akan kami lakukan uji kualitas airnya,” kata dia, melalui layanan perpesanan Whats App, Jumat (13/9/2019).

Dihubungi terpisah, Kabid Operasi dan Pemeliharaan Jaringan BBWSBS, Wahyu Kusumastuti, mengatakan dalam pertemuan itu pihaknya akan menyampaikan sejumlah informasi tentang titik-titik pencemaran di sepanjang Sungai Bengawan Solo, khususnya ruas sungai yang memiliki kemungkinan pencemaran lingkungan terbesar.

“Informasinya akan ada pemetaan mana-mana saja yang menjadi lokasi pembuangan limbah paling banyak. Setelah itu, akan disusun langkah-langkah penanganan,” kata dia.

Wahyu menyebut pada Rabu (11/9/2019) lalu, pihaknya menggelar Sidang Komisi dan Sidang Pleno Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) Wilayah Sungai (WS) Bengawan Solo di Hotel Sala View.

Dalam sidang itu, limbah etanol menjadi salah satu pembahasan.

“Ternyata diketahui limbah ciu itu memang dibuang oleh industri yang belum memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Ada dua industri etanol di Sukoharjo yang diundang, dari Polokarto dan Mojolaban. Industri di Polokarto ini mengakui belum punya IPAL. Informasinya pada 2020, akan dibangun IPAL di sana sehingga diharapkan tidak mencemari sungai,” kata dia.

Wahyu menyampaikan dari 28 titik pantauan di sepanjang Sungai Bengawan Solo, 13 titik di antaranya menjadi lokasi buang limbah yang mengakibatkan pencemaran. Beberapa di antaranya adalah anak Sungai Bengawan Solo, seperti Kali Pepe, Jenes, Premulung, dan Samin.