Saluran Colo Timur Ditutup 2 Pekan Lebih Awal, Colo Barat Tetap 1 Oktober?

Warga melintas di rel kereta api dekat sawah di Sendang Ijo, Selogiri, Wonogiri, Jumat (13/9/2019). (Solopos - Rudi Hartono)
13 September 2019 19:15 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Dam Colo ditutup untuk pemeliharaan selama satu bulan setiap tahun. Sesuai jadwal, dua saluran air Dam Colo, yakni Colo Timur dan Colo Barat ditutup mulai 1 Oktober hingga 31 Oktober.

Namun, tahun ini penutupan saluran Colo Timur dimajukan dua pekan menjadi 15 September. Sedangkan untuk Colo Barat, menurut informasi yang dihimpun Solopos.com, Jumat (13/9/2019), pengelola Dam Colo akan menutup saluran irigasi Colo Barat tetap mulai 1 Oktober.

Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pengguna Air (GP3A) Colo Barat, Rusdiyanto, kepada Solopos.com, Jumat, menyampaikan berdasar hasil rapat Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA), Colo Barat ditutup 1 Oktober.

Sebelumnya, petani meminta penutupan Colo Barat tak dimajukan seperti Colo Timur. Petani juga meminta tambahan debit yang dialirkan ke Colo Barat saat penutupan berlangsung nanti.

Namun, Perum Jasa Tirta (PJT) menjelaskan air yang ditampung di Waduk Gajah Mungkur (WGM) minim sehingga debit air yang bisa didistribusikan hanya 3 m3/detik.

Saat rapat tersebut belum dibahas penutupan Colo Barat berdurasi berapa lama. Menurut Rusdiyanto, jika penutupan berlangsung lama, sementara hujan belum turun, tanaman padi di lahan seluas 150-175 hektare (ha) dari total 250 ha sawah penerima air dari Colo Barat dipastikan gagal panen.

Petani hanya bisa mengambil sisa-sisa air di sungai dan sumur pantek. Dia menyebut air sisa di sungai dan sumur pantek tidak dapat diandalkan untuk irigasi karena debit airnya sangat kecil. Padahal saat ini usia tanaman masih muda.

“Biasanya kalau enggak tertolong hujan sudah dipastikan yang gagal panen mencapai 60 persen-70 persen,” kata Rusdiyanto saat dihubungi Solopos.com.

Dia melanjutkan sawah di Wonogiri yang mengandalkan pengairan dari Colo Barat ada empat desa di Selogiri, yakni Sendang Ijo, Nambangan, Pule, dan Jaten.

Terpisah, Koordinator Penyuluh Pertanian Selogiri, Sugito, meyakini petani sudah memiliki cara mendapatkan air jika Colo Barat ditutup. Saat hal itu terjadi biasanya petani mengambil air dari sumur pantek atau sumur dalam menggunakan mesin pompa air.

Ada juga petani yang menyedot air menggunakan mersible, seperti petani di Nambangan. “Rata-rata usia tanaman di sawah yang dapat air dari Colo Barat sekarang ini satu bulan. Pas Colo Barat ditutup nanti mau enggak mau petani harus solusi lain dalam mencari air, agar tanaman tetap hidup,” kata Sugito.

Pantauan Solopos.com di sawah Sendang Ijo yang mengandalkan air dari Colo Barat, mayoritas sawah ditanami. Namun, ada juga lahan yang tak ditanami. Sementara air di Colo Barat masih mengalir deras.