Warga Solo Minta Tak Digusur Sebelum Lebaran

Kereta yang akan dioperasikan di rute Bandara Adi Soemarmo/Stasiun Solo Balapan. (Istimewa)
23 April 2018 14:00 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO--Sejumlah warga yang menempati lahan PT KAI di bantaran rel KA Stasiun Solo Balapan-Stasiun Kalioso wilayah Kelurahan Kadipiro, Banjarsari berharap tak digusur sebelum Lebaran 2018.

Seorang warga bantaran rel Kampung Sekip RT 001/RW 023 Kadipiro, Misnun, mengatakan hingga kini warga bantaran rel belum juga menerima kepastian terkait besaran uang santunan yang bakal diberikan oleh pemerintah kepada mereka yang terdampak proyek pembangunan jalur KA akses Bandara Adi Soemarmo. Dia berharap pemerintah bisa segera mengumumkan kepada warga nilai uang santunan yang akan diberikan.

Misnun menuturkan informasi terkait besaran uang santunan segera dibutuhkan warga untuk memperkirakan rencana pencarian tempat tinggal pengganti. Jika uang santunan yang diberikan cukup besar, dia berencana memakainya untuk membeli tanah. Kemudian Misnun akan mencoba mencari utangan untuk bisa membangun rumah seadanya di tanah itu. Namun jika uang santunan yang diberikan ternyata di luar harapan, Misnun akan memakainya untuk mengontrak.

“Saya tidak tahu lagi kalau uang santunan yang diberikan ternyata hanya pas-pasan untuk mengontrak. Jika uang habis, saya otomatis harus pergi dari kontrakan. Mudah-mudahan uang santunannya cukup untuk membeli tanah untuk jaminan tempat tinggal,” jelas Misnun saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Kamis (19/4/2018).

Misnun berharap pemerintah tak buru-buru langsung meminta warga untuk pindah setelah diberi uang santunan. Warga butuh waktu untuk mencari dan menyiapkan tempat tinggal pengganti. Dia mengusulkan agar proses penertiban bangunan di bantaran rel bisa dilakukan setelah Lebaran. Namun dengan syarat, yaitu uang santunan sudah lebih dulu diterima warga jauh-jauh hari setidaknya pada April atau Mei.

“Semoga warga tidak diminta pergi sebelum Lebaran. Lebaran itu kan kesempatan bagi warga untuk saling bersilaturahmi. Jika kami pindah dalam waktu dekat ini, bagaimana nanti? Keberadaan kami di tempat baru bisa jadi tidak banyak diketahui yang lain,” jelas Misnun.

Warga bantaran rel KA lainnya, Sriyadi, 48, juga mengusulkan kepada pemerintah tidak meminta warga meninggalkan rumah di bantaran rel dalam waktu dekat. Dia meminta pemerintah memberikan waktu kepada warga untuk mencari tepat tinggal pengganti yang paling cocok. Namun, hal itu bisa tidak dilakukan jika pemerintah mau memberikan tempat pengganti atau minimal dibelikan tanah untuk mendirikan rumah.

“Saya jujur khawatir jika diberi uang santunan, nilainya kecil sehingga tidak cukup untuk menyediakan tempat tinggal baru. Uang yang diterima bisa malah habis untuk membayar sewa kontrakan. Kalau diberi tempat tinggal pengganti, saya rasa warga siap saja untuk pindah kapan pun,” jelas Sriyadi.