Jembatan Tanggan Sragen Direhab, Warga Harus Memutar Sejauh 3 Km

Pekerja memukuli fondasi Jembatan Tanggan sebagai langkah awal pembangunan jembatan baru di Gesi, Sragen, Selasa (8/5 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
08 Mei 2018 22:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Papan portabel dipasang di pintu masuk Jalan Sapen-Gesi sebagai rambu pengalihan arus lalu lintas. Kendaraan roda empat dari Sragen yang menuju ke Gesi harus melewati Jatitengah, Sukodono, atau memutar lebih dari 3 km.

Papan serupa juga dipasang di simpang empat Dukuh/Desa Tanggan, Gesi, sebagai rambu pengalihan arus lalu lintas kendaraan roda dua. “Pengalihan jalur itu sudah diberlakukan sejak dua pekan lalu, yakni sejak proyek rehab Jembatan  Tanggan dimulai,” ujar Loso, 42, warga Dukuh/Desa Tanggan, RT 022, Gesi, Sragen, saat berbincang dengan Solopos.com di dekat areal proyek, Selasa (8/5/2018).

“Jembatan kecil di wilayah Desa Tanggan itu hanya untuk mobil pribadi. Kalau untuk truk tidak boleh. Masyarakat terpaksa harus memutar dulu sampai proyek selesai. Jembatan Tanggan itu sudah waktunya direhab. Rehab terakhir dilakukan pada 1978 dan baru diresmikan pada 1979. Kami berharap pekerjaan segera selesai,” tuturnya.

Di dekat proyek itu dipasang plakat papan proyek. Pada papan itu tertulis nilai anggaran pembangunan jembatan  senilai Rp1.534.054.000. Panjang jembatan 20 meter dan lebar 6 meter.

Proyek itu dikerjakan CV Budhi Manunggal. Berdasarkan kontraknya proyek itu dikerjakan dalam waktu 180 hari. Tim Pengawalan Pengamanan Pemerintah dan Pembangunan Daerah (TP4D) Kejaksaan Negeri Sragen juga mengawasi pekerjaan tersebut.

Dirjo Wiyono, 80, yang tinggal di Dukuh/Desa Tanggan RT 010 terpaksa menyeberang sungai ketika hendak ke sawah. Ia tinggal di sebelah utara jembatan sedangkan sawahnya di sebelah selatan jembatan.

“Kalau muter jauh sampai 3 km. Lebih baik jalan  kaki menyeberangi sungai. Paling jarak rumah ke sawah hanya 1 km,” ujar Dirjo.

Kendati sudah kakek-kakek, Dirjo masih kuat menggarap sawah. Biasanya ia ke sawah naik sepeda onthel atau motor. Dia ingat dulu jembatan dibangun secara gotong-royong dengan konstruksi bambu.

Pada masa Pemerintahan Bupati Sayyid Abbas, kata dia, jembatan itu mulai dibangun oleh pemerintah. “Batu-batunya banyak diambilkan dari wilayah kompleks makam dan hutan jati Sentono dan Gedong,” tuturnya.