Siswa MIM Sawit Wonogiri Seberangi Sungai Demi Sekolah

Murid-murid MIM Sawit Kecamatan Giritontro, Wonogiri menyeberangi sungai saat pulang sekolah pada Senin (7/5 - 2018). (Solopos/Ichsan Kholif Rahman)
15 Mei 2018 08:00 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI--Perjuangan para siswa Madrasah Ibtidaiah Muhammadiyah (MIM) Sawit, Kecamatan Giritontro, Kabupaten Wonogiri untuk mengenyam pendidikan perlu diapresiasi. Mereka rela bersusah-payah, dengan risiko yang tidak kecil agar dapat setiap hari belajar di sekolah.

Puluhan anak-anak MIM Sawit, Kecamatan Giritontro mengambil air wudu, Senin (7/5/2018). Setelah Salat Zuhur berjamaah, Taufik Romadhon, Ardiansyah Reza, dan Muhammad Rizky serta sejumlah kawannya mulai mengganti sepatu dengan sandal milik mereka yang mereka bawa dari rumah.

Sudah menjadi kebiasaan mereka saat berangkat dan pulang sekolah hanya mengenakan sandal. Kemarin, Taufik Romadhon bertelanjang kaki karena sandal miliknya putus setelah bertarung dengan jalan terjal bebatuan di Giritontro. Ia mulai berjalan bersama kawan-kawannya keluar dari sekolah sembari bercanda dan berlarian.

Hawa panas, serta debu yang beterbangan menjadi teman ketika kaki-kaki kecil mereka bergerak perlahan menuju rumah. Sesekali Taufik membersihkan telapak kakinya yang terkena pasir yang menempel. “Sandal saya putus, jadi harus telanjang kaki, lumayan panas tapi daripada sepatunya basah kan untuk sekolah,” ujar Taufik murid kelas enam asal Desa Mijahan, Kecamatan Pracimantoro saat ditemui Solopos.com selepas ia menyeberang sungai.

Sejenak langkah mereka terhenti, Taufik mulai melipat celana merah hingga tepat di bawah lututnya. Ia mulai berjalan perlahan menuruni bukit dengan memijak batu-batu yang secara kebetulan tersusun menyerupai tangga. Kedua tangannya memegang pepohonan dan batuan yang berdiri di samping mereka untuk menopang tubuhnya. Tak peduli seragam putihnya sesekali tergores rumput-rumput yang lebih tinggi dari tubuhnya.

Tepat setelah menuruni bukit, sungai selebar 15 meter telah menunggu mereka untuk pulang. Sungai Mijahan mereka menyebutnya, 1 kilometer jaraknya dari sekolah. Kaki-kaki yang menghitam setelah bertarung dengan cuaca terik mulai memasuki air. Tiap mereka melangkah, bertambah tinggi pula air membasahi kakinya. Tak peduli air yang mencapai betis mereka, canda dan tawa masih terucap lewat tingkah laku polos anak-anak desa.

Taufik bersyukur, hujan lama tak turun sehingga ia tak perlu kebasahan hingga pinggang atau dada mereka atau tak perlu bersusah payah mengangkat sandal tepat di atas kepalanya. Demi jarak dari rumah ke sekolah yang lebih dekat hanya 2 km.

Karena memutar lebih dari 5 km menuju jembatan dengan berjalan kaki atau bersepeda bukan perkara mudah. Terkadang memilih membaca buku di rumah adalah sebuah pilihan daripada melawan arus deras yang setiap saat bisa menggulung tubuh kecil mereka. Bukan malas, orang tua yang merantau ke Surabaya, nenek yang sudah renta tak mungkin kuat mengantar untuk bersekolah, tak mungkin dipaksa.

Kepala Madrasah, Wanto saat ditemui Solopos.com mengapresiasi semangat murid-muridnya yang rela setiap hari harus menyeberangi sungai. Ia sangat mengharapkan jembatan yang memudahkan para siswanya untuk belajar. Tanpa harus risih celananya basah saat pelajaran. Ia juga memaklumi para siswa ketika sungai meninggi terpaksa tidak bersekolah karena akan berbahaya apabila dipaksakan.