Pengelola Umbul Ponggok Klaten Beri Santunan Korban Tenggelam

Umbul Ponggok Klaten. (Solopos/Dok)
22 Juli 2018 16:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Pengelola Badan Usaha Milik (BUM) Desa Tirta Mandiri, Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Klaten, menyatakan siap bertanggung jawab terkait meninggalnya  seorang pengunjung seusai berenang di Umbul Ponggok, Jumat (20/7/2018) siang.

Direktur BUM Desa Tirta Mandiri, Joko Winarno, mengatakan keluarga sudah mengikhlaskan kepergian korban bernama Sutarbi, 53, warga Dukuh Watu Gajah, RT 001/RW 007, Desa Jelok, Kecamatan Cepogo, Boyolali, itu. Surat pernyataan sudah dibuat oleh perwakilan keluarga Sutarbi yang menyatakan tak menuntut pengelola Umbul Ponggok.

Tokopedia

"Meski tanpa tuntutan dari keluarga korban, kami tetap bertanggung jawab," kata Joko kepada wartawan di Kantor Desa Ponggok, Sabtu (21/7/2018).

Joko menjelaskan uang duka awal sudah diberikan kepada keluarga korban senilai Rp2 juta. Uang itu sebagai pengganti biaya pemakaman. Soal biaya perawatan saat Sutarbi dirawat di RS PKU Muhammadiyah Delanggu, Joko memastikan pengelola Umbul Ponggok akan menanggungnya.

Joko mengatakan klaim asuransi jiwa segera diurus setelah administrasi lengkap. Pengelola masih menunggu surat kematian yang diproses keluarga korban.

Ia mengatakan tiket masuk Rp15.000/orang sudah termasuk biaya asuransi jiwa bagi setiap pengunjung selama di Umbul Ponggok. Diperkirakan klaim asuransi untuk korban meninggal dunia Rp10 juta.

"Kami juga siap memberikan uang duka lanjutan untuk membantu biaya saat menggelar peringatan hari meninggal dunia seperti tujuh harian serta 40 harian. Untuk besarannya tidak ditentukan," kata Joko.

Sutarbi meninggal dunia pada Jumat sekitar pukul 13.30 WIB. Saat kejadian, Sutarbi yang berenang berusaha menaikkan salah satu keponakannya ke wahana Ninja Warior. Namun, setelah tiga kali mencoba menaikkan keponakannya, Sutarbi lemas dan hampir tenggelam.

Kerabatnya yang mengetahui kejadian itu lantas melapor ke petugas rescue di Umbul Ponggok. Sutarbi sempat sadarkan diri saat petugas memberikan pertolongan pertama sebelum dibawa ke RS PKU Muhammadiyah Delanggu.

Meski sempat dirawat di IGD RS PKU Muhammadiyah Delanggu, nyawa Sutarbi tak tertolong. Dari hasil pemeriksaan dokter, Joko menjelaskan ada indikasi medis Sutarbi terkena serangan jantung. Hal itu dibenarkan keluarga Sutarbi. Sakit jantung Sutarbi sempat kambuh dua pekan sebelum kejadian itu.

Selain memiliki riwayat sakit jantung, Sutarbi diduga kelelahan setelah sehari sebelumnya menempuh perjalanan jauh dari Jakarta ke Boyolali. "Korban bekerja di Jakarta. Ia berniat pulang untuk memasang nisan pada makam kerabatnya," urai Joko.

Terkait peristiwa itu, Joko mengatakan pengawasan pengunjung diperketat. Petugas penyelamat akan berkeliling dan melakukan briefing untuk memastikan setiap pengunjung yang memiliki risiko tinggi agar tak berenang.

"Sebenarnya SOP [standard operating procedure] sudah dilalui dengan memperingatkan pengunjung agar pemanasan dulu serta yang risiko tinggi untuk tidak berenang. Memang peristiwa ini di luar kendali kami," tutur dia.

Joko berharap peristiwa serupa tak terulang lagi di masa mendatang. "Harapan kami prosedur-prosedur untuk mengantisipasi risiko fatal dilakukan pengelola pemandian lainnya," katanya.

Salah satu pengunjung, Indra, 40, warga Desa Mandong, Kecamatan Trucuk, Klaten, menuturkan pemandian di Umbul Ponggok cukup dalam dengan kedalaman sekitar 3 meter. "Kalau pas ramai saya memilih tidak berenang daripada berisiko tenggelam. Kalau selama ini memang kerap ada peringatan melalui pengeras suara agar pengunjung yang tidak bisa berenang disarankan memakai pelampung," katanya.