Colo Barat akan Ditutup, Petani Wonogiri Nekat Tanam Padi

Dua petani mopok galengan atau mempertebal lapisan pematang sawah di Keblokan, Sendang Ijo, Selogiri, Wonogiri, Jumat (3/8/2018). Sawah tersebut akan ditanami padi pada MT III ini. (Solopos - Rudi Hartono)
03 Agustus 2018 19:36 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI—Sebagian petani di Selogiri, Wonogiri, nekat menanam padi meski mengetahui sawah bakal minim asupan air pada musim tanam (MT) III yang bersamaan dengan kemarau.

Petani pun tak menghiraukan penutupan Saluran Induk Colo Barat pada Oktober yang berakibat petani hanya efektif mendapatkan aliran air selama dua bulan sejak mulai tanam.

Tokopedia

Mereka berani menanggung risiko terburuk, yakni produksi padi tak maksimal atau bahkan gagal panen.

Petani yang nekat tanam padi adalah mereka yang memiliki sawah dekat Saluran Induk Colo Barat, sehingga bisa mendapatkan air dari saluran tersebut, seperti di Desa Sendang Ijo. Sedangkan petani di Jaten, Nambangan, dan Pule, juga masih bisa mendapatkan asupan air tapi dengan cara menyedot pakai mesin pompa.

Saluran irigasi tersebut melintas di Desa Sendang Ijo dan Nambangan.

Namun, Saluran Induk Colo Barat akan ditutup total pada 1 Oktober mendatang. Penyetopan saluran merupakan kegiatan rutin pihak terkait untuk merealisasikan program perbaikan jaringan saluran.

Artinya, tanaman padi hanya akan mendapatkan air secara efektif selama dua bulan atau bahkan kurang.

Pantauan Solopos.com, di areal persawahan dekat Saluran Induk Colo Barat di Sendang Ijo, Jumat (3/8/2018), sejumlah petak sawah sudah ditanami padi. Tanaman padi masih pendek.

Tanaman padi tersebut belum genap berusia sepekan. Dua pekerja tampak mopok galengan atau mempertebal lapisan pematang sawah. Sawah tempat mereka beraktivitas bakal ditanami padi.

Petani asal Keblokan, Sendang Ijo, Suradi, 60, mengatakan dirinya akan menanam padi beberapa hari ke depan. Sebagai langkah awal dia mempekerjakan buruh tani untuk mopok galengan. Dia sudah mengetahui Saluran Induk Colo Barat setiap tahun ditutup.

Meski demikian dia tetap menanam padi karena meyakini tanaman padi bisa tumbuh meski tak sebaik pada MT I dan II. Hal itu lantaran tanaman hanya akan mendapatkan air kurang dari dua bulan.

Apabila spekulasinya luput, Suradi pun siap menanggung risiko produksi padi bakal minim atau bahkan gagal panen. Jika gagal panen dia akan rugi lebih kurang Rp7 juta dan tenaga untuk mengurus tanaman. Nilai itu adalah biaya tanam setiap penanaman di lahan yang digarapnya seluas 1,5 hektare (ha).

“Untung-untungan saja. Biasanya pada Oktober ada hujan satu atau dua kali. Siapa tahu tahun ini juga ada hujan juga. Kalau gagal panen, enggak apa-apa, saya ikhlas,” ucap Suradi.

Kepala Desa (Kades) Sendang Ijo, Dirun, mengatakan hanya sebagian kecil petani di desanya yang menanam padi pada MT III. Biasanya sawah tetap bisa mendapatkan air meski Saluran Induk Colo Barat ditutup meski terbatas.

Hal itu karena setelah saluran ditutup air tak langsung habis. Menurut dia hal itulah yang membuat petani tetap nekat tanam padi pada kemarau ini.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, lahan seluas 800 ha dari total 2.045 ha di Selogiri tetap ditanami padi pada MT III.

Lahan tersebut tersebar di Desa Jaten (lebih kurang 300 ha dari total 334 ha), Nambangan (lebih kurang 142 ha dari total 186 ha), Pule (lebih kurang 50 ha dari total 241 ha), dan Sendang Ijo (lebih kurang 33 ha dari total 186 ha).