Nyaris Mati, Eks Pecandu Narkoba Wonogiri Kini Nyantri

DS, 28, saat mengaji di Pondok Pesantren Santri Manjung, Dusun Manjung Wetan, Desa Manjung, Kecamatan Wonogiri, Wonogiri, belum lama ini. (Ist)
03 Agustus 2018 20:41 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI—DS, 28, berjalan keluar dari Pondok Pesantren Santri Manjung, Dusun Manjung Wetan, Desa Manjung, Kecamatan Wonogiri, Wonogiri, belum lama ini.

Mengenakan sarung berwarna biru kotak-kotak dan peci hitam ia menuju ke sebuah mobil angkutan kota (angkuta). Dia bersiap menjemput para santri ponpes dari sekolah untuk kembali ke pondok.

Ya, Pondok Pesantren Santri Manjung tersebut adalah asuhan Brigadir Eko Julianto, Bhabinkamtibmas Desa Manjung. Mengantar dan menjemput santri ponpes telah menjadi rutinitas DS, selama empat bulan terakhir dia tinggal di pondok tersebut.

Siang kemarin, kedua kantung mata DS terlihat hitam pekat tampak seperti orang yang tidak pernah tidur. Bola matanya sangat merah dengan tangan yang terus bergerak. Jari telunjuk ia gesekan dengan jari yang lain, sesekali ia berhenti namun tak sampai semenit ada saja anggota tubuh yang ia gerakkan.

Bahkan, saat berbincang dengan Solopos.com. DS adalah mantan pecandu narkotika. Sejak duduk di bangku SMP ia telah mengenal minum-minuman keras.

Puncaknya, pada saat ia menginjak SMA ia mulai mengonsumsi obat-obatan terlarang dan sejak tahun 2009 ia mulai rutin mengonsumsi sejenis pil koplo.

Hingga akhirnya, pada 2011 ia memutuskan merantau ke Jakarta dan Kalimantan menjadi supir rental perusahaan tambang. Dari pekerjaan itu, ia mendapat penghasilan sampai Rp2juta per hari. Kebiasaan mengonsumsi pil koplo pun hilang namun berganti ke sabu-sabu.

“Penghasilan lumayan, pekerjaan berat, dan hasilnya saya bersama teman-teman di Kalimantan justru makin terperosok, kami terus mengonsumsi sabu-sabu. Kalau pil dan ganja membuat badan lemas tidak bisa diajak kerja, kalau sabu saya bisa tidak tidur tiga hari,” ujar DS, yang enggan menyebut dari mana dia berasal.

Ia membeli narkoba dari harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Dengan dalih pengaruh lingkungan, ia pun kecanduan. Berulang kali kawannya di Kalimantan tertangkap polisi membuat keberaniannya hilang. Hingga akhirnya ia memutuskan kembali ke Jawa.

Pemberantasan narkoba yang sangat masif membuatnya dihadapkan pada dua pilihan penjara atau kuburan.

Over Dosis

Dua pilihan tersebut tak langsung membuat ia jera, ia kembali mengonsumsi pil koplo. Tak tanggung-tanggung, 25 butir pil koplo ia telan dalam sekali minum. Mujur dia tak pernah berurusan dengan polisi. Hingga akhirnya ia mengalami over dosis ketika puluhan pil ia minum dengan minuman keras, sekitar lima bulan lalu.

Ia tak sadar selama tiga hari. Saat tidak sadar selama tiga hari itulah, orang tuanya mengantar DS ke pondok pesantren.

Di sana, Brigadir Eko sudah mengetahui kondisinya. Entah apa yang dialami di alam bawah sadarnya, sehingga saat pengaruh over dosis itu berkurang, hatinya terpanggil untuk berubah. Ia meninggalkan masa lalunya dan memilih tinggal di pondok pesantren.

“DS datang dalam kondisi tidak sadar, dengan tubuh yang sangat kurus, ia masih dalam pengaruh pil koplo. Satu bulan awal saya larang ia untuk merokok. Ketika ia saya ajak mengaji, ia hanya menangis,” ujar Brigadir Eko, yang juga bertugas di Polsek Wonogiri Kota.

Dengan usianya yang sudah 28 tahun, DS tak segan bergabung dengan 35 santri pondok, yang rata-rata masih berusia 17-18 tahun. DS pun tak malu mengulang belajar membaca Alquran. “Baru sampai Iqro jilid 6,” tutur DS.

Antar Jemput Santri

Menurut Brigadir Eko, DS mengalami banyak peningkatan. Kantung matanya sudah tak sehitam saat awal datang. “Namun, ia sangat mudah sakit.” Kini aktifitas sehari-hari selain menjadi sopir antar jemput santri, hanya mengaji di pondok.

Manusia tidak bisa dilihat dari masa lalu, DS kini telah berjuang untuk menjadi seorang yang lebih baik.