Gunung Merapi Cetak Rekor Status Waspada Terlama

Warga mengusung rumput untuk pakar ternak di kawasan perbukitan lereng Merapi Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten, Senin (14/1/2019). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
16 Januari 2019 16:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Gunung Merapi mencetak rekor status waspada terlama yang bertahan selama delapan bulan terakhir. Status tersebut masih dipertahankan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan perubahan kondisi gunung tersebut.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Hanik Humaida, mengatakan penetapan status aktivitas Gunung Merapi baru dilakukan pada 1990-an. Sejak ada penetapan status tersebut, posisi status Merapi pada level waspada saat ini merupakan yang terlama. 

“Yang jelas ini yang terlama sejak ada penetapan status. Karakter seperti ini [status waspada dalam kurun lama] pernah terjadi tetapi dulu sekali sebelum ada pemberian status,” kata Hanik saat dihubungi Solopos.com, Rabu (16/1/2019).

Namun, ia menegaskan lamanya status waspada tak berarti ada perbedaan karakteristik gunung tersebut. “Sebenarnya tidak berbeda karena karakter Merapi itu macam-macam. Salah satu karakter Merapi ya seperti ini,” ungkap dia.

Disinggung kemungkinan status Merapi naik ke level siaga, Hanik belum bisa memastikan. Ia menjelaskan berbagai kemungkinan aktivitas Merapi masih bisa terjadi termasuk kembali pada status normal. 

“Untuk menentukan status Merapi itu kami melihat semua parameter yang ada seperti deformasi, seismik atau visualnya setelah itu kami evaluasi. Potensinya bisa naik [ke level siaga] atau turun [kembali ke normal]. Saat ini kondisinya masih fluktuatif sekali,” urai dia.

Terkait aktivitas Merapi yang masih pada status waspada, Hanik mengimbau warga tetap tenang dan waspada. Ia juga meminta agar rekomendasi BPPTKG tetap dipatuhi salah satunya radius 3 km dari puncak Merapi tidak diperkenankan untuk aktivitas penduduk.

Status Gunung Merapi dinaikkan dari level normal ke waspada seiring peningkatan aktivitas gunung yang berada di berada di empat kabupaten dua provinsi tersebut. BPPTKG menetapkan status Merapi pada level waspada sejak 21 Mei 2018 dan bertahan hingga saat ini. 

Kepala Pelaksana BPBD Klaten, Bambang Giyanto, mengatakan status Merapi pada level waspada saat ini merupakan rekor terlama dibanding peningkatan status Merapi saat erupsi sebelumnya. 

“Kalau tidak salah pada 2010 itu hanya tiga bulan. Saat ini sudah mencapai delapan bulan,” kata Bambang.

Ia menjelaskan kewenangan penetapan status aktivitas Gunung Merapi berada di BPPTKG. BPBD Klaten sebatas menerima rekomendasi dari hasil kajian BPPTKG. 

Hal itu termasuk ketika memutuskan kapan warga yang tinggal di lereng Merapi harus mengungsi. Bambang menjelaskan hingga saat ini belum ada rekomendasi untuk mengungsikan warga terutama mereka yang tinggal di kawasan rawan bencana (KRB) III erupsi Merapi. 

“Kalau ada rekomendasi BPPTKG itu disertai jarak berapa km dari puncak harus dikosongkan. Saat rekomendasi jarak itu memasuki wilayah yang ada penduduknya, baru kami melangkah. Saat ini rekomendasi yang harus dipatuhi yakni jarak 3 km harus steril dari aktivitas penduduk. Ini yang kami patuhi dengan selalu patroli serta sosialisasi,” jelas Bambang.

Bambang memastikan BPBD sudah siap jika sewaktu-waktu warga lereng Merapi harus diungsikan seiring peningkatan aktivitas Merapi. Wilayah Klaten yang terdekat dengan puncak Merapi yakni Balerante, Sidorejo, dan Tegalmulyo di Kecamatan Kemalang. 

Salah satu persiapan itu yakni membentuk cluste dengan tugas berbeda ketika status Merapi meningkat dan warga harus diungsikan. Cluster itu seperti pengungsian, keamanan, peternakan, kesehatan, serta dapur umum. 

“Kami juga sudah menyiapkan DSP [dana siap pakai] Rp500 juta serta BTT [bantuan tak terduga] Rp7,5 miliar. Dana itu bisa dicairkan manakala ada penetapan status darurat,” kata dia.

Bupati Klaten, Sri Mulyani, mengimbau warga yang tinggal di kawasan lereng Merapi tetap waspada dan mematauhi rekomendasi BPPTKG. “Harapan dan doa saya, Merapi hanya mengeluarkan lava pijar kecil-kecil saja tidak sampai pada bencana yang lebih besar. Warga juga jangan sampai termakan informasi hoaks tentang Merapi,” kata dia.