Kenangan Netizen Tentang Keajaiban Serenan Klaten

Foto pesawat Garuda yang mendarat di Bengawan Solo, 16 Januari 2002 (Solopos/Sunaryo Haryo Bayu)
28 Januari 2019 17:40 WIB Chelin Indra Sushmita Klaten Share :

Solopos.com, SOLO – Sekitar 17 tahun lalu, tepatnya Rabu, 16 Januari 2002, warga Desa Serenan, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, dikejutkan dengan mendaratnya pesawat Boeing 737-300 Garuda Indonesia GA421 di Sungai Bengawan Solo.

Lokasi pendaratan pesawat tersebut berada di sisi timur desa yang terkenal sebagai penghasil ukiran di Klaten. Kala itu, pesawat terbang dari Ampenan (Mataram) dengan tujuan Jogja. Pesawat Boeing 737-300 Garuda Indonesia GA421 yang dipiloti Abdul Rozaq dan kopilot Haryadi tersebut tiba-tiba kehilangan daya dorong akibat kedua mesin jetnya mati lantaran terkena badai es saat menembus awan kumulonimbus.

Pesawat yang melayani rute Lombok-Yogyakarta itu membawa 54 penumpang dan enam orang kru. Semua penumpang selamat, namun salah satu awak kabin ditemukan meninggal diduga akibat benturan saat pesawat mendarat.

Peristiwa tragis tersebut menghasilkan satu masukan penting bagi dunia penerbangan. Khususnya pabrikan mesin pesawat, berdasarkan investigasi yang dilakukan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Selain itu, kecelakaan pesawat Garuda di Bengawan Solo menyisakan cerita dan kenangan mendalam di benak sejumlah orang.

Warganet yang tahu kronologi kecelakaan pesawat Garuda tersebut memberikan komentar pada foto kenangan 17 tahun keajaiban Serenan unggahan Solopos.com, Minggu (27/1/2019). Sejumlah netizen menceritakan kembali pengalaman mereka terkait terjadinya tragedi tersebut melalui kolom komentar di akun Facebook Solopos.com.

"Pas main sepak bola di pinggir kali lewat di atas kepalaku pas. Ternyata mendarat di Serenan," kenang Zacky.

"Zaman dulu sampai lari-lari pengin tahu ada kejadian apa," imbuh Dewi Sekar Ambarwati.

"Zaman kecil dulu sampai naik ontel dari Wonosari sampai Serenan hanya untuk melihat ini," sambung Benn Tox menimpali.

"Zaman dulu sampai warga buka lahan parkir untuk yang antusias nonton pesawat Garuda jatuh di Serenan, Juriwing, Klaten," lanjut Rio Hendrawan.