Pemkab Wonogiri Siapkan Rp1 Miliar untuk Enyahkan Jaring Branjang dari WGM

Bupati Wonogiri, Joko Sutopo (berdiri), berbicara di hadapan nelayan se-Kabupaten Wonogiri di Pendapa Rumah Dinas Bupati Wonogiri, Kamis (7/2 - 2019). (Istimewa/Humas Setda Wonogiri)
08 Februari 2019 21:05 WIB Cahyadi Kurniawan Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI — Pemerintah Kabupaten Wonogiri menyiapkan dana Rp1 miliar untuk bantuan perahu dan jaring kepada nelayan Waduk Gajah Mungkur (WGM). Melalui program itu Pemkab berharap nelayan menangkap ikan secara ramah lingkungan dengan meninggalkan jaring branjang.

Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, mengatakan pada Agustus 2017, Pemkab melakukan evaluasi terhadap nelayan di Kabupaten Wonogiri. Hasilnya, ditemukan banyak nelayan di Baturetno, Eromoko, Wuryantoro, menggunakan alat tangkap yang ilegal salah satunya adalah penggunaan jaring branjang.

Jaring itu dinilai merusak ekosistem karena ukuran mata jaring yang kecil. Akibatnya, ikan-ikan berukuran kecil ikut terjaring. “Dalam jangka panjang hal ini mengakibatkan populasi ikan menjadi tidak seimbang. Akibatnya hasil tangkapan berkurang,” kata Bupati, saat menyampaikan paparan dalam Sarasehan bersama nelayan di Pendapa Rumah Dinas Bupati Wonogiri, Kamis (7/2/2019).

Dari hasil evaluasi itu lalu Pemkab Wonogiri membikin kebijakan terhadap nelayan untuk bersih-bersih jaring branjang di WGM. Pelaksanaan bersih-bersih itu terwujud pada 2018. Di WGM tidak ditemui penggunaan jaring branjang lagi.

“Namun, tadi saya temui ada sedikit nelayan kembali menggunakan jaring branjang. Di sini kami berharap ada kesadaran kolektif untuk meninggalkan branjang. Kami tidak menoleransi penangkapan ikan secara ilegal,” terang Joko.

Untuk memberikan kesempatan yang sama di semua jenis profesi, maka Pemkab menyiapkan bantuan Rp1 miliar untuk pembelian jaring dan perahu bagi 47 kelompok nelayan dari total 61 kelompok nelayan di Wonogiri. Bantuan itu diharapkan bisa terealisasi pada April mendatang.

“Sisanya, akan diberikan dengan melihat hasil evaluasi penggunaan di 47 kelompok penerima. Kalau hasilnya bagus, saya berikan lagi kepada kelompok nelayan yang belum mendapatkan. Misi kami adalah agar eksistensi WGM ini terjaga dengan baik,” kata Joko.

Salah satu nelayan asal Baturetno, Tri Mardani, mengatakan nelayan banyak yang menggunakan branjang karena terkendala sejumlah permasalahan. Salah satunya adalah tidak semua nelayan bisa menggunakan jaring darat atau jaring pasangan.

Tak hanya itu, nelayan juga terkendala modal untuk membeli jaring baru saat jaringnya tersangkut tanaman liar atau sampah di waduk. “Nelayan modern menggunakan perahu bermesin dan modal. Ada yang utang, menyewa hingga sistem setoran. Permasalahan yang dihadapi nelayan selain modal juga keterampilan dan sumber daya,” tutur tri.