Begini Cara Tikus Menyerang Padi di Jaten Karanganyar

Petani bersama TNI dan Polisi melakukan gropyokan dan pengasapan untuk memberantas tikus di Desa Suruhkalang, Jaten, Karanganyar, akhir Januari 2019. (Istimewa/Dokumentasi Kecamatan Jaten)
09 Februari 2019 23:00 WIB Sri Sumi Handayani Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Belasan hektare (ha) sawah di Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, diserang tikus. Hewan pengerat itu menyerang padi usia 23-35 hari.

Petani di Jaten menggunakan cara tradisional untuk memberantas organisme pengganggu tanaman (OPT), yakni pengasapan dan gropyokan. Serangan tikus itu terjadi sepanjang musim tanam. Tetapi jumlah OPT, serangan, dan lahan terdampak tergantung musim. Tikus berkembang biak pesat saat penghujan.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Suruhkalang, Kecamatan Jaten, Haryono, menjelaskan tikus menyerang 12 ha sawah. Serangan merata di seluruh area persawahan di Kecamatan Jaten, tetapi paling banyak di Desa Suruhkalang.

"Terserang duluan karena berbatasan dengan wilayah tetangga, yakni Desa Kragilan, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. Tikus pindah dari situ. Kami menerima laporan dari petani. Sudah sejak awal Januari," kata dia saat berbincang dengan wartawan di kantor Kecamatan Jaten, Jumat (8/2/2019).

Tikus menyerang padi umur 25-35 hari dengan cara memotong batang padi pada bagian bawah dekat akar. Dia menduga tikus menyerap sari padi. Tipe serangan berpindah dan menyebar. Petani yang tergabung dalam kelompok tani berupaya memberantas tikus dengan pengasapan dan gropyokan.

"Lubang diasapi menggunakan semacam belerang. Lalu lubang lain yang keluar asap ditutup. Tikus akan mati atau keluar lubang. Lalu dikejar dan dipukul sampai mati. Kami sudah melakukan beberapa kali bersama TNI dan Polisi. Selain itu, kami juga menggunakan racun kimia dengan umpan beras," tutur dia.

Racun tikus yang digunakan berbeda-beda setiap kali akan pemberantasan. Haryono berkilah tikus cerdik dan manusia harus bisa mengelabuhi supaya tikus memakan umpan. Petani mendapatkan racun tikus dari Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit (LPHP) Solo.

"Ada tiga atau empat macam obat dari laboratorium. Ini sudah banyak berkurang tapi memang harus rutin dan berpindah-pindah," ujar dia.

Hal senada disampaikan PPL Desa Sroyo, Tri Susetyatmoko. Tikus juga menyerang area persawahan di Desa Sroyo tetapi jumlahnya tidak banyak. Petani Desa Sroyo mengantisipasi dengan menutup lubang di area persawahan. Selain itu, mereka menggunakan racun tikus.

"Racun diletakkan di lubang, saluran irigasi, dan tanggul. Gropyokan itu harus dilakukan serentak. Serangan paling banyak di wilayah yang agak miring. dan dekat tanggul," tutur dia saat berbincang dengan wartawan.

Sementara itu, Camat Jaten, Aji Pratama Heru Kristanto, menuturkan serangan hama dapat dikendalikan apabila petani menganut sistem tanam padi serentak. Sebelum serangan tikus, petani harus menghadapi serangan hama sundep.

"Semua teratasi. Sejauh ini sudah gropyokan tikus dua kali. Tikus itu memotong batang padi dekat tanah dan akar. Jadi seperti mengamuk. Kuncinya petani kompak memberantas hama," ujar dia.