Khas! Dawet Nganten Waduk Cengklik Boyolali Benar-Benar Beda

Pengunjung menikmati semangkuk dawet di Warung Dawet Nganten di Desa Ngargorejo, Kecamatan Ngemplak, Boyolali. Foto diambil belum lama ini.
05 April 2019 08:00 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI—Alfina, 19, dan Fajar, 21, turun dari sepeda motor di depan sebuah warung bercat hijau di pinggir jalan Desa Ngesrep-Desa Ngargorejo, Kecamatan Ngemplak, Boyolali.

Tepat di sisi selatan Waduk Cengklik sebuah warung bertuliskan Dawet Nganten menarik perhatian mereka berdua.

Tak lama setelah memarkir motor di tepi jalan keduanya memasuki warung. Warung itu terbuka dan hanya beratapkan seng.

Sejumlah meja lesehan dan bangku sebagai tempat duduk tertata berjajar. Sebuah papan yang juga ditempeli tulisan Dawet Nganten sebagai brand produk menjadi pembatas warung dengan jalan.

Setelah memesan dua mangkuk dawet, Alfina dan Fajar memilih duduk lesehan. Mereka bercakap-cakap sembari menunggu pesanan datang.

“Penasaran karena namanya yang unik, belum pernah melihat juga,” tutur Alfina, ketika berbincang dengan Solopos.com, belum lama ini. Meski kerap wira-wiri di jalan Desa Ngesrep, warung ini baru disadari keduanya sepekan belakangan. “Karena hari ini pas lewat kebetulan buka ya sekalian mampir,” imbuh dia.

Sekitar sepuluh menit kemudian, dua mangkuk dawet terhidang di meja. Tak seperti dawet kebanyakan yang berwarna hijau, Dawet Nganten justru berwarna bening. Sang pemilik warung, Eko Saputro, memang sengaja membuat dawet yang berbeda.

“Kalau biasanya hijau, ini tidak dikasih pewarna tapi bahan dasar tetap sama sehingga warnanya putih,” tutur warga Desa Sobokerto, Kecamatan Ngemplak.

Semangkuk Dawet Nganten dijual Eko dengan harga Rp3.000. Ukuran mangkoknya relatif kecil layaknya mangkok di wedang ronde. Selain menikmati dawet, di warung ini juga menyediakan jajanan tambahan seperti tape ketan dan rambak.

“Wah rasanya enak, manisnya pas,” tutur Fajar, saat dimintai komentar.

Eko membuka usaha warung Dawet sejak pertengahan Desember 2018 lalu. Dia tidak memiliki alasan khusus terkait pemilihan jenis usaha ini.

“Hanya memikirkan makanan yang merakyat dan cocok di lidah banyak orang, apalagi di sini dekat dengan tempat wisata,” kata dia.

Toko Kelontong

Berdagang memang sudah menjadi pekerjaan Eko, selain warung dawet dia lebih dahulu membuka sebuah toko kelontong di kawasan yang sama.

Perihal pemilihan nama, Eko pun mencetuskannya secara spontan. Dia hanya berusaha mencari nama yang unik dan mudah diingat banyak orang sehingga warungnya gampang melekat di hati banyak pelanggan.

“Tercetuslah nama Dawet Nganten ini, sekaligus bisa jadi doa,” imbuh dia. Sebagai strategi promosi, Eko sempat menempelkan beberapa poster berbahan MMT bertuliskan Dawet Nganten di sepanjang jalan Ngesrep-Ngargorejo.

Hasilnya kini dalam sehari Eko berhasil menjual hingga 100 porsi Dawet. Warung Dawet Nganten buka sejak pagi sekitar pukul 09.30 WIB dan tutup saat semua porsi dawet ludes.