Zonasi PPDB Bikin Sekolah Swasta Terpuruk

Orang tua siwa mengadukan pelaksaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Online SMA 2019 di Kantor Dewan Pendidikan Kota Solo, Solo, Selasa (2/7 - 2019). (Solopos/M. Ferri Setiawan)
04 Juli 2019 19:30 WIB Tamara Geraldine Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMP Negeri dengan sistem zonasi sekolah dinilai makin menggerus jumlah pendaftar sekolah swasta di Kota Solo. Sekolah swasta kalah bersaing dengan sekolah negeri karena faktor kedekatan rumah dan sekolah.

Wakil Ketua Ikatan Kepala Sekolah Swasta (IKSS) SMP dan Kepala SMP Muhammadiyah 5 Solo, Sudarmo, mengatakan PPDB dengan sistem zonasi dinilai tidak menguntungkan sekolah swasta. Pasalnya, dengan model penerimaan tersebut maka sekolah swasta kesulitan mendapatkan siswa baru.

“Sejak sistem zonasi diterapkan, siswa baru di sekolahnya berkurang. Mudah-mudahan tahun ini kuota penerimaan bisa terpenuhi,” ujarnya saat dihubungi Solopos.com melalui sambungan telepon, Rabu (3/7/2019).

Dia mengatakan sistem zonasi makin menggerus sekolah swasta. Sistem zonasi hanya memperbolehkan siswa mengambil SMPN saja. “PPBD online ini memprioritaskan siswa memilih sekolah negeri dengan empat pilihan sekolah. Misalnya lulusan SD ada 10.000 siswa daya tampung SMPN ada 7.000 siswa. Otomatis SMP Swasta memperebutkan 3.000 siswa ini,” ujarnya.

Namun menurutnya sejumlah SMP swasta di Solo optimistis bisa menggaet banyak siswa baru pada tahun ajaran 2019. Ia juga mengatakan meskipun berat, sekolah-sekolah swasta harus memperbaiki mutu kualitas pendidikan. “Kami tetap optimis mendapatkan siswa yang terbuang dari sistem zonasi,” ujarnya.

Sudarmo mengatakan sistem zonasi membuat sekolah swasta sepi peminat. Dia juga menjelaskan PPDB online 2019 membuat semua siswa memilih SMPN. "Sekolah swasta mendapatkan apa, apalagi sekolah swasta yang tidak memiliki ciri khusus,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi kekurangan siswa baru, sekolah terus melakukan sosialisasi ke masyarakat. Salah satunya dengan menyasar ke para siswa yang berada di luar zonasi yang berkaitan dengan program-program unggulan yang dimiliki sekolah.

“Ini jadi tantangan bagi sekolah swasta karena dengan zonasi banyak calon siswa yang memilih sekolah negeri. Asal jarak sekolah dekat dengan rumah, maka peluang siswa diterima akan semakin besar tanpa memperhatikan nilai yang diperoleh,” katanya.

Dia mengatakan akibat dari sistem zonasi tersebut terdapat SMP swasta yang tahun ini tutup. Sebagai contoh SMP Kristen 4 Solo tahun ini terpaksa tutup. "Murid-muridnya dipindahkan ke SMP Kristen 3 Solo,” ujarnya.

Ketua Badan Kerja Sama Kepala Sekolah Menengah Atas (BKS SMA) swasta Solo, Literzet Sobri, juga mengakui sistem zonasi membuat sekolah swasta makin tak berdaya. Sistem tersebut dinilai akan mengambil siswa yang dekat dengan sekolah negeri dan akan masuk ke sekolah negeri. Dia menilai Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah hanya berpihak kepada sekolah negeri tanpa ada niat bersinergi dengan sekolah swasta.

“Sekolah swasta sudah menyesuaikan dengan Permendikbud yang lama. Kini aturan diubah membuat sekolah swasta semakin tercekik,” ujarnya saat ditemui Solopos.com di SMA Batik Solo, Rabu (3/7).

Literzet yang juga Kepala SMA Batik 1 Solo ini mengatakan PPDB SMAN 2019 mengharuskan siswa memilih sekolah sebanyak-banyaknya. Pemprov dinilai tidak mempertimbangkan porsi siswa untuk sekolah swasta.

"Beberapa sekolah swasta terpaksa tutup karena kalah bersaing. Sebenarnya sekolah swasta memiliki segment pasar yang berbeda-beda,” ujarnya.

Direktur Yayasan Satu Karya Karsa (YSKK), Kangsure mengatakan untuk sekolah swasta yang tidak diminati bisa tutup. Sebagai Polemiknya, yang akan menerima adalah sekolah swasta yang tidak diminati makin tergerus dengan sistem zonasi.

“Banyak orang tua yang memilih sekolah swasta yang diminati dan berprestasi,” ujarnya.

Dengan sistem zonasi, sekolah swasta tidak mendapatkan limpahan siswa. Sebagai contoh lulusan SD 2019 sebanyak 10.000 siswa, sedangkan SMPN memiliki daya tampung 8.700. “Sisanya ini akan lari ke sekolah swasta yang memiliki mutu yang bagus. Sekolah swasta yang tidak diminati makin terpuruk,” ujarnya.

Dia mengatakan sekolah swasta akan berlomba-lomba menjaga kualitas lulusan. Apabila sekolah yang tidak diminati itu tidak membuat perubahan, keadaan makin membuat mereka tidak bertahan lama.

“Misalnya SMP-SMA Al-Azhar dan SMP-SMA Muhammadiyah Program Khusus Kota Barat tetap unggulan. Meskipun tergolong sekolah baru, kepercayaan masyarakat tumbuh dan cenderung semakin meningkat. Kemunculan sekolah menengah swasta baru di tengah meredupnya sekolah menengah swasta pada umumnya adalah sangat berisiko,” ujarnya.