Digadang Jadi Cabup Pada Pilkada Wonogiri 2020, Ini Komentar Wabup Edy Santoso

Kuliah umum bertema Mencetak Generasi Islami yang Siap Berkompetisi di Era Revolusi Industri 4.0, di Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Mulia Astuti (Staimas) Wonogiri, Sabtu (4/8 - 2018). (Ist)
04 Juli 2019 12:15 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Politikus Golkar yang juga Wakil Bupati (Wabup) Wonogiri, Edy Santosa, digadang-gadang menjadi calon bupati (cabup) penantang petahana pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Wonogiri 2020 mendatang.

Edy dianggap sebagai tokoh politik senior yang memiliki elektabilitas tinggi di Kota Sukses meski untuk itu harus didukung koalisi besar guna melawan kedigdayaan PDIP dan calon yang akan diusung.

Menanggapi hal tersebut, Edy mengaku belum memikirkan soal Pilkada 2020. Dia ingin mencurahkan energi dan pikirannya untuk menyelesaikan tugas sebagai wabup terlebih dahulu.

Ditemui Solopos.com di ruang kerjanya kompleks Sekretariat Daerah (Setda) Wonogiri, Rabu (3/7/2019), Edy mengatakan siapa pun berhak menyampaikan pandangan politik, termasuk terkait dirinya. Namun, dia tak akan terpengaruh.

Edy menyatakan hingga kini sedikit pun belum memikirkan Pilkada 2020. Dia ingin fokus menjalankan tugas dan kewajiban di sisa jabatannya hingga Februari 2021 mendatang.

Menurut dia, masih banyak yang harus dikerjakan untuk menyelesaikan pekerjaan rumah (PR), terutama dalam menekan angka kemiskinan. “Saya kerja dulu saja,” kata Edy.

Dia melanjutkan dirinya dan Joko Sutopo sudah berkomitmen menjalankan amanat masyarakat Wonogiri hingga selesai masa jabatan. Ada beberapa pekerjaan yang belum dituntaskan, seperti menyelesaikan Program Alus Dalane atau peningkatan jalan dan jembatan.

Edy dan Joko sudah menangani 900 km jalan kabupaten dari total 1.038 km jalan di Wonogiri. Selain itu menuntaskan program peningkatan layanan kesehatan.

Menurut Edy, program kesehatan belum selesai sepenuhnya. Memang capaiannya sangat positif, seperti sudah memberi layanan kesehata gratis kepada warga miskin nonpeserta Jaminan Kesehatan Nasional [JKN] yang dirawat di bangsal kelas III RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso, membebaskan retribusi layanan kesehatan puskesmas bagi warga ber-KTP Wonogiri, dan sebagainya.

"Kami masih perlu memikirkan rehab sejumlah puskesmas yang kondisinya memprihatinkan juga,” kata Edy.

Disinggung ihwal gambaran awal arah politiknya dalam Pilkada 2020, Edy tak ingin berspekulasi. Dia menegaskan dirinya sebagai Wabup dan Joko selaku Bupati selalu harmonis sehingga dapat berjalan beriringan dalam mewujudkan janji-janji politiknya pada Pilkada 2015 lalu.

Dia juga tak bersedia berkomentar tentang kebijakan partainya, yakni Golkar. Edy menyebut tanggapan sudah disampaikan Ketua DPD Golkar Wonogiri, Bondan Sejiwan Boma Aji, kepada Solopos.com beberapa waktu lalu.

Dia menilai pandangan yang dikemukakan Bondan bahwa arah politik Golkar masih sangat cair dan semua kemungkinan bisa terjadi sudah sangat bijaksana.

“Kembali lagi di awal, saya belum memikirkan soal Pilbup [Pilkada] 2020. Perihal sikap Golkar kan sudah disampaikan ketua,” ulas dia.

Sebelumnya, Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Wonogiri, Sumarwoto Umar, menilai Edy layak melawan Joko yang diyakini akan menjadi petahana. Masalahnya, Edy belum tentu bersedia diusung partai koalisi.

Persoalan lainnya, partai politik juga belum tentu bersedia membangun koalisi besar untuk melawan petahana. Pada sisi lain, PKB belum memutuskan arah politiknya, akan merapat kepada PDIP atau membangun koalisi untuk melawan PDIP.