Pasar Mangkrak di Boyolali akan Diubah Jadi Ruang Publik

Pekerja menyaring pasir dalam proses pembangunan pasar baru Pengging di kawasan Cagar Budaya Pipo di Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono, beberapa waktu lalu. (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
20 November 2018 11:00 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI — Pasar yang dinilai sepi aktivitas atau mangkrak diwacanakan diubah menjadi ruang hijau untuk publik. Hal tersebut diungkapkan Wakil Bupati Boyolali M Said Hidayat di sela-sela meninjau Pasar Batangan di Kecamatan Simo, Senin (19/11/2018).

“Kami koordinasikan dengan DLH [Dinas Lingkungan Hidup] sekiranya pasar yang tidak bisa dihidupkan kembali, maka sebaiknya dibangun untuk menjadi ruang terbuka hijau,” ujarnya seperti disampaikan dalam rilis Pemkab.

Dia menambahkan, setidaknya ada lima pasar kecil di wilayah Boyolali yang mangkrak. Namun Wabup tidak memerinci kelima pasar tersebut.

Sementara itu, Said juga mengatakan ada pasar kecil lain yang masih mungkin dibangun kembali dengan harapan aktivitas di dalamnya akan meningkat. Sehingga perekonomian masyarakat di sekitar pasar itu akan meningkat pula.

Sementara itu, pada 2018 Pemkab melalui Melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) membangun/merelokasi 25 pasar tradidional yang di antaranya saat ini masih dalam proses pembangunan. Pasar itu antara lain Pasar Pengging dan Pasar Ngancar di Banyudono, Pasar Mojosongo di Kecamatan Mojosongo, Pasar Wonosegoro, dan lainnya.

Sementara itu, selain meninjau Pasar Batangan, Wabup juga meninjau pembangunan Pasar Demangan di Kecamatan Sambi, Pasar Pengging, dan Pasar Ngancar.

Pantauan Solopos.com di Pasar Pengging, bangunan utama untuk los dengan rangka logam sudah berdiri. Sementara itu, bangunan kios juga sebagian sudah terbentuk meskipun belum beratap.

Sebelumnya, Kepala Disdagperin Boyolali Karsino mengatakan, revitalisasi pasar-pasar antara lain bertujuan mengubah tempat perdagangan yang kumuh menjadi bersih dan nyaman untuk semua. “Dengan visi misi Bupati Boyolali dalam revitalisasi pasar, maka perekonomian menggeliat, tidak ada pasar di Boyolali yang kumuh,” ungkapnya.

Dia juga menilai pasar yang sekiranya tidak digunakan sebagai tempat perdagangan diubah menjadi ruang publik lainnya. “Pasar yang memang betul-betul tidak ada pedagangnya kita alih fungsikan untuk ruang publik. Kemudian, yang sekiranya masih berfungsi, kami dorong untuk dibangun tempat representatif sehingga aktivitas pasar kembali aktif,” ungkapnya.