50-An Warga Sekampung Jalani Rehab, 40 Sudah Bersih dari Narkoba  

Ilustrasi narkoba. (Solopos/Whisnu Paksa)
30 November 2018 20:30 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO—Mitra Alam adalah  LSM yang mendampingi pengidap HIV/AIDS. Penyebaran HIV/AIDS salah satunya melalui jarum suntik. Memasuki 2006-2010 tren penularan HIV/AIDS lewat jarum suntik di Kota Bengawan mengalami penurunan. Pendampingan dan pengawasan LSM yang peduli terhadap penyakit yang menyerang imunitas tersebut dinilai berperan. Selain itu, program layanan jarum suntik steril (LJSS) dari pemerintah juga membantu.

Mulyadi mengatakan pada dekade 1990-an penggunaan jarum suntik tidak steril oleh pencandu narkoba membuat angka pengidap HIV/AIDS meningkat. Beberapa tahun sesudahnya, kemudahan mendapatkan alat suntik dengan harga terjangkau membuat angka itu berkurang.

“Dulu satu jarum suntik dipakai bertiga, sekarang kalau sudah beli narkoba ditambah Rp10.000 saja sudah bisa beli jarum suntik. Kami menduga itu berperan, selain berbagai program. Terlebih, tren narkoba suntik sudah tidak semasif dulu,” kata Mulyadi, Rabu (28/11/2018).

Mulyadi menyebut angka pengguna narkoba juga terus menurun berkat pendampingan dan program rehabilitasi. Sebagai contoh, salah satu daerah di Solo yang dikenal sebagai kampung narkoba, sebagian besar warganya telah bersih. Mereka tak lagi mau berdekatan dengan barang haram itu. Padahal kampung itu sebelumnya menjadi tempat tinggal bandar, pengedar, dan pencandu. “Selama tiga tahunan kami menawarkan program rehab inap dan rehab jalan. Ada pengguna tahunan yang benar-benar tobat. Dari 50-an orang yang menjalani rehab di kampung itu, 40-an di antara mereka sudah bersih,” jelas Mulyadi.

Saat ini LSM Mitra Alam menyasar pengguna narkoba berumur belasan tahun. Kesulitannya, mereka masih paranoid sehingga sulit dijangkau. Umur pengguna narkoba itu paling kecil 11 tahun atau kelas V SD sehingga membutuhkan dukungan berbagai pihak, utamanya keluarga.

Salah seorang mantan pencandu narkoba, sebut saja bernama Agus, 42, mengaku menjadi pengguna narkoba sejak berumur 18 tahun. Berbagai narkoba, seperti putaw, sabu-sabu, pil ekstasi, metadon dan sebagainya pernah dicicipnya. Beruntung, ia tak sampai tertular HIV/AIDS. “Kalau pakai narkoba suntik memang beramai-ramai, minimal bertiga. Kebiasaan itu sangat rentan, tapi saya lebih sering sendiri. Saat kecanduan, bisa melakukan apa saja agar bisa high. Bahkan ada teman yang menyuntikkan pil  yang dilarutkan langsung ke pembuluh darah. Padahal ini sangat berbahaya. Niatan positif dan janji saya kepada anak membuat saya akhirnya insyaf,” tutur Agus.